Hikmah Tentang Virus Corona


Sebagai seorang mukmin wajib menyandarkan segala sesuatu kepada Allâh ta’ala , bertawakal dan berkeyakinan bahwa semua urusan ada ditangan Allâh Azza wa Jalla. Allâh azza wa jalla berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allâh; dan Barangsiapa beriman kepada Allâh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. [at-Taghâbun/64:11]

Termasuk perintah dalam hal ini adalah tawakal kepada Allah atas segapla musibah dan ujian yang menimpa kaum mukminin. Diantara ujian dan musibah dari Allah ta'ala pastilah banyak mengandung hikmah, namun hanya sedikit saja yg mampu untuk mengambilnya. Diantara musibah yg sedang melanda kaum mukminin adalah tersebarnya wabah penyakit Corona atau Covid-19 (Corona Virus Dissease-19) yg awal mulanya muncul di Wuhan China. Tentu dengan kemunculan wabah ini sebagai peringatan bagi semua umat manusia agar mereka tidak melanggar batasan-batasan Allah yg telah ditetapkanNya.

Sebagai gambaran bahwa virus ini muncul di negara yg notabene adalah komunis yg selalu melanggar aturan-aturan Allah, bahkan di negara ini sering sekali muncul wabah penyakit yg tidak pernah ditemui sebelumnya. Al Muwaffaq Al Baghdadi rahimahullah dalam Thaba'iul Buldan berkata, sejak 8 abad yang silam:

والصِّيْنُ أوبأ الأرض، وهي محلُّ الطواعين والأمراض القتالة، وأهلها يتحرزون من ذلك غاية التحرز . (قالها المُوفقُ البغدادي في طبائع البُلدان، قبل ٨٠٠ سنة!!).

"Cina adalah negara yang paling banyak wabah. Ia menjadi tempat wabah tha'un (semacam pes) dan penyakit-penyakit mematikan lainnya. Penduduknya berusaha sekali menjaga diri daripadanya."

Pada tanggal 3 Maret 2020 lalu WHO menyatakan bahwa virus corona (covid 19) telah meningkat derajat penyebarannya dari wabah menjadi epidemi dan akhirnya sekarang menjadi pendemi. Yaitu penyebarannya sudah internasional, dan negara-negara internasional gagal dalam membendung penyebaran tersebut. Dan telah kejadiannya kini mencapai lebih dari 100 ribu kasus hingga saat ini, dan kematian telah mencapai ribuan.

Bila dikatakan Covid-19 adalah penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan, sehingga dampaknya dapat merusak tubuh dan berujung pada kematian, maka ada pula penyakit yang lebih berbahaya, memang tidak menjadikan korbannya mati namun menjadikannya seperti mayat hidup dan penyakit tersebut adalah penyakit hati, seperti hasad, iri, dengki, dll yg sangat susah diobati kecuali dengan ilmu. Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

أمراض القلوب أصعب من أمراض الأبدان، لأن غاية مرض البدن أن يُفضي بصاحبه إلى الموت، وأما مرض القلب فيُفضي بصاحبه إلى الشقاء الأبدي، ولا شفاء لهذا المرض إلا بالعلم.

"Penyakit hati sebenarnya lebih berat daripada penyakit badan, karena akhir dari penyakit badan adalah membawanya kepada kematian, sedangkan penyakit hati membawa kepada kesengsaraan abadi, dan obatnya hanya dengan ilmu (belajar)." (Miftah Daris Sa'adah 1/370)

Sebagai seorang mukmin marilah kita berusaha dan ikhtiar kepada Allah ta'ala, Dialah Yang Menciptakan penyakit dan Dialah Yang Menurunkan obatnya. Maka jangan sampai kita melanggar batasan-batasan yang telah disyariatkanNya. Ingat untuk menghadapi wabah, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا. متفق عَلَيْهِ

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dalam sebuah hadits disebutkan tentang khasiat kurma agar kita terlindung dari wabah penyakit dan sihir,

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5779 dan Muslim no. 2047).

Sebagian orang bijak berkata tentang virus corona,

فيروس صغير 
اثبت للعالم 
ان النقاب هو الواقي
وان الوضوء هو المطهر
وان الدعاء هو المضاد
وان الاختلاط هو البلاء

"Dia hanya virus kecil yang menguatkan kepada dunia bahwa,
Cadar itu sebagai pelindung
Wudhu sebagai penyuci
Doa sebagai antivirus
Pergaulan Bebas sebagai bala bencana

أقول : قال الله تعالى : سنريهم آياتنا في الآفاق وفي أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق

Kita katakan, Allah Ta'ala berfirman,

"Kami akan tampakkan ayat-ayat kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri agar nyata bahwa Al Quran adalah benar." (Qs. Fushshilat: 53).

Ingatlah bahwa dengan munculnya wabah Covid-19 ini adalah sebagai pertanda akan kekuasaan Allah jalla jalaaluhu, tak ada yg mampu menandingiNya, KekuasaaNya meliputi langit dan bumi, beserta seluruh alam semesta, kita ibarat benda yg kecil di bawah seluruh kebesaran kekuasaanNya. Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata,

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون، فأخبرني أنه عذاب يبعثه الله على من يشاء، وأن الله جعله رحمة للمؤمنين ليس من أحد يقع الطاعون، فيمكث في بلده صابرًا محتسبًا، يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر شهيد.

"Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang wabah tha'un, maka Beliau menyampaikan, bahwa wabah tha'un adalah azab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang beriman. Tidak ada seorang pun yang tertimpa wabah tha'un, lalu ia sabar di negerinya sambil mengharap pahala, ia juga yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang menimpanya melainkan telah ditetapkan Allah kecuali dia akan memperoleh pahala syahid." (HR. Bukhari no. 3474).

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

لولا محن الدنيا ومصائبها؛ لأصاب العبد من أدواء الكبر والعجب والفرعنة وقسوة القلب ما هو سبب هلاكه عاجلا وآجلا، فمن رحمة أرحم الراحمين أن يتفقده في الأحيان بأنواع من أدوية المصائب تكون حمية له من هذه الأدواء..


"Seandainya bukan karena adanya ujian-ujian dan musibah-musibah di dunia, niscaya seorang hamba ditimpa penyakit sombong, ujub, melampaui batas seperti Fir'aun, dan kerasnya hati, yang semua ini merupakan sebab kebinasaannya di dunia dan akhirat.

Jadi termasuk bentuk rahmat dari Dzat yang paling penyayang diantara para penyayang adalah dengan terkadang memberikan perhatian kepadanya dengan berbagai macam obat berupa musibah-musibah yang menjadi imunisasi dari berbagai penyakit tersebut." (Zaadul Ma'ad, 4/179).

Janganlah khawatir dengan merebaknya Covid-19, bahkan di antara sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun ada yang wafat karena wabah thaun seperti Abu Ubaidah ibnul Jarrah seorang yang dijamin masuk surga dan Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma. Bila telah datang waktu pemanggilan, maka kita persiapkan diri dengan sebaik-baiknya, persiapkan bekal dan ikhtiar untuk menghadapi kematian yg pasti akan menjemput kita.

Terakhir mari kita selalu berusaha untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala macam bentuk laranganNya, Ingatlah keadaan seorang mukmin antara bersyukur dan bersabar atas nikmat dan musibah yang diberikan, Lakukanlah sebab dan lakukan berbagai upaya untuk mengobati penyakit. Berobat dan mencari sebab tidaklah bertentangan dengan tawakkal, Perkuat diri dengan dzikir, terutama sekali rutinkan dzikir pagi dan petang, Jangan percaya pada berita-berita hoax, dan bersabarlah atas ketetapan Allah ta'ala, sebab nilai dan buah dari kesabaran adalah di akhirnya, sabar bukanlah seminggu, sebulan, setahun, namun tanpa batas sampai kita temui dengan ikhtiar tersebut buah manisnya, serta ingatlah bahwa musibah yang paling besar bagi seseorang adalah musibah yang menimpa agama, bukan musibah dunia. Allahua'lam.

Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Ditulis di Ngrojo, Nanggulan, Kulonprogo, DIY, Kamis pagi 08.19 WIB, 24 Rajab 1441 H/19 Maret 2020 M.