Covid-19 & Pelajaran Kisah Semut di Dalam Al Qur'an


Setelah pada tanggal 3 Maret 2020 lalu WHO menyatakan bahwa virus corona (covid 19) telah meningkat derajat penyebarannya dari wabah menjadi epidemi dan akhirnya sekarang menjadi pandemi. Yaitu penyebarannya sudah internasional, dan negara-negara internasional gagal dalam membendung penyebaran tersebut. Dan telah kejadiannya kini mencapai lebih dari 100 ribu kasus hingga saat ini, dan kematian telah mencapai ribuan.

Banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil dari munculnya wabah Corona ini, untuk menghindari tersebar luasnya wabah ini banyak negara-negara di dunia memberlakukan sistem tanggap darurat, ada yang memberlakukan kejadian ini sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa), dan saking berbahayanya wabah ini, bahkan beberapa negara termasuk negara kita memberlakukan sistem Social Distancing (menjaga jarak, mengurangi perjumpaan atau kontak fisik) ada juga sistem Lockdown (tindakan yang dilakukan pemerintah dengan "memaksa" menutup sejumlah tempat dan kawasan)
bagi penduduknya.

Berbeda dengan 'social distancing' yang sifatnya masih berupa imbauan dan dilakukan atas kesadaran tiap individu, Lockdown adalah situasi yang melarang warga untuk masuk tempat atau tempat karena kondisi darurat. Lockdown juga bisa berarti negara yang menutup perbatasannya, agar tidak ada orang yang masuk atau keluar dari negaranya.

Pada saat ini sejumlah negara di Eropa telah menutup tempat-tempat seperti sekolah, universitas, cafe, restoran, dan bioskop, atau pada dasarnya yang ramai dikunjungi warga. Perbedaan antara istilah 'lockdown' dan 'social distancing' telah membuat kebingungan banyak warga, termasuk di Australia dan Indonesia.

Ketidakpahaman soal definisi keduanya juga membuat kepanikan yang berlebihan. Warga takut jika 'lockdown' diberlakukan, maka mereka tidak bisa lagi berbelanja kebutuhan hidup, sehingga mereka memborong barang-barang di supermarket karena merasa panik. Padahal di beberapa banyak negara, mereka masih bisa berbelanja, bekerja, saat status 'lockdown' diberlakukan, meski pergerakannya "secara paksa" dibatasi.

Ada sebuah kisah yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah Semut dan Nabi Sulaiman yg diabadikan oleh Allah ta'ala di dapam Surat An Naml, tentang bahaya tanggap wabaah penyakit.

Diantara hikmah Allah ta'ala adalah Dia telah menundukkan untuk NabiNya Sulaiman sejumlah pasukan besar yang terdiri dari jin, manusia, dan burung, tentunya ini sebuah tentara yang sangat besar. Bisa dibayangkan tentara dengan jumlah sebanyak ini pasti akan berjalan sambil melipat tanah, dan mengeluarkan suara hiruk pikuk yang dapat menghalangi pendengaran Sulaiman dari mendengar suara binatang merayap yang sangat halus. Tapi Sulaiman telah menangkap sebuah suara, bukan suara manusia atau bangsa jin, tapi suara seekor semut. Allah ta'ala berfirman,

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata, “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung, dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.” {QS. An-Naml: 16.}

Apa yang dikatakan semut itu ketika Sulaiman mendengar percakapannya, berkatalah seekor semut,

يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” {QS. An-Naml: 18.}

Semut betina dialah yang bertugas (bertanggung jawab) membela dan melindungi anggota koloni-nya dari setiap bahaya yang datang secara tiba-tiba (Koloni: Kawanan binatang yang tinggal di suatu daerah, hidup sangat berdekatan dan saling berhubungan satu dengan yang lain). Dan hal itu dengan cara mengeluarkan sinyal-sinyal ke seluruh anggota koloni agar waspada terhadap bahaya yang datang.

Para ilmuwan telah membuktikan (menetapkan) bahwa semut berbicara dengan bahasa mereka sendiri, dan terbukti juga bahwa semut betina dialah yang memberikan peringatan terhadap setiap bahaya yang akan datang, dan tidak ada peran sedikitpun dari semut jantan di dalamnya. Kata قَالَتْ adalah kata kerja untuk mu’annats, sedangkan mudzakkar-nya (laki-laki/jantan) adalah قَالَ (tanpa huruf Ta’).

Lalu pelajaran apa yang dapat kita petik dari kata-kata sederhana dan singkat semut diatas, terutama disaat-saat munculnya wabah Corona yang sangat mematikan ?

1. PELAJARAN PERTAMA: Bahwa wajib untuk taat pada keputusan pemerintah selama hal tersebut bukan termasuk kemaksiatan.

Dari kisah diatas semut telah mengajarkan kepada kita bahwa, seseorang tidak boleh menganggap kecil usaha pribadinya. Sebab semut sang guru itu telah menghalau sebuah krisis besar yang hampir saja melanda bangsanya secara keseluruhan. Sebuah bahaya besar yang bisa saja melumat habis bangsanya, dia tidak peduli dengan kuantitas dirinya, tidak membenarkan dirinya dengan alasan bahwa dia seorang diri yang tidak bias membuat perubahan apa-apa. Maka ia memanggil kaumnya, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Sama halnya dengan pemerintah, jika pemerintah telah menentukan suatu keputusan yang dimana dapat mempengaruhi rakyatnya, terutama saat munculnya wabah penyakit tertentu misalnya saat ini munculnya wabah Covid-19 kemudian pemerintah memberlakukan siatem Social Distance atau Lockdown, maka kita tidak boleh mengabaikannya atau menganggap remeh, justru kita harus taat dan laksanakan. Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ 

“Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).

Berapa banyak kita butuh untuk menanamkan logika tersebut dalam diri kita, bahwa di sana ada masalah besar yang membelenggu yaitu wabah yang sangat berbahaya. Terkadang logika kita mudah meremehkan suatu permasalahan yg kecil dan begitulah manusia. Padahal jika kita meneliti ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah, sejarah Nabi dan biografi orang-orang hebat, niscaya ia mendapati beberapa fakta bahwa, seorang individu mampu berbuat hal yang besar yg akan bermanfaat bagi bangsa atau keluarganya atau orang lain. Bukankah Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam seorang diri dalam memulai dakwah? Ini hingga mencapai seluruh pelosok dunia.

2. PELAJARAN KEDUA: Mendahulukan Kepentingan Publik Diatas Kepentingan Pribadi.

Dalam kisah diatas semut rela menawarkan dirinya kepada bahaya yang besar, yaitu kaki manusia dan langkah-langkah mereka bagi hewan kecil semut. Semisal puluhan meter, ini pasti sangat berbahaya bagi semut. Resiko yang sewaktu-waktu datang dari kaki manusia atau binatang buas. Seharusnya dalam situasi ini, ia berlari mencari perlindungan dan tidak memperdulikan semut yang lain, tetapi ia memutuskan untuk menyeru memberi peringatan kepada kaumnya untuk menyelamatkan diri dari mereka. Ini bukti bahwa ia lebih mendahulukan kepentingan kaumnya daripada kepentingan pribadi.

Dari kisah diatas semut mengajarkan kepada kita tentang status tanggap bencana dan musibah, bahwa ia memerintahkan kepada bala tentaranya agar masuk ke dalam sarang supaya tidak terinjak oleh tentara Nabi Sulaiman. Tentu perintah tanggap bencana ini juga sebagaimana yang diputuskan oleh pemerintah, jika pemerintah telah memutuskan sistem Lockdown, sistem lainnya, atau suatu keputusan agar menetap di rumah dari suatu wabah, maka kita wajib taat dan patuhi demi keselamatan diri kita juga orang lain. Demikianlah beberapa faidah yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat.

Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Ditulis di Ngrojo, Nanggulan, Kulonprogo, DIY, Kamis sore, 16.43 WIB, 24 Rajab 1441 H/19 Maret 2020 M.

Diterbitkan oleh: Silsilah Manhaj Salaf Dakwah Channel (SMSDC). Binaan Ust. Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah.