VALENTINE, TASYABUH YANG BERUJUNG PETAKA & DOSA



Warna pink, logo hati, pita merah, coklat beraneka rasa dan bentuk adalah penampakkan yang kerap terjadi di pertengahan bulan Februari. Di tanggal 14 sebagian orang merayakan hari tersebut dengan nama valentine's day.

Entah bagaimana awal sejarahnya, dari beberapa klaim sejarah yang ada, -katanya- perayaan valentine's day adalah suatu perayaan yang ditujukan untuk mengenang jasa seorang pendeta nasrani yang hidup di era romawi kuno. Dari beberapa sumber lain, bumbu kekufuran dan kesyirikan kaum paganis kuno pun terasa kuat menyengat, semakin memperburuk keadaan hakikat perayaan ini, ditambah dengan polesan cinta, kasih sayang dan keromantisan menjadikannya seakan indah dipandang.

Kaum muslimin yang seharusnya menjauhi perayaan kasih sayang ini ternyata semakin hari semakin menjadi, terkhusus pada sebagian kaum mudanya yang lemah iman dan aqidahnya, apalagi ditambah melempemnya pemuda muslim jaman sekarang.

Mereka yang merayakan valentine's day biasanya membawa pasangannya (pacar) masing-masing. Mulai dari kongkow di alun-alun kota, taman-taman pinggir jalan, mall-mall elit, sampai di cafe-cafe elit, menjadi titik tujuan mereka dalam merayakannya. Bahkan tak jarang pemuda-pemuda desa pun merayakannya di tempat-tempat umum.

Sehingga jika kita dapati hakikat dari valentines day adalah tsyabuh yang berujung petaka dan dosa, sudah umum khalwat (campur baur antara lelaki dan wanita) akan terjadi diiringi oleh alunan musik melankolis betemakan cinta berpadu, menjadikan perayaan ini sebagai perayaan penuh syahwat dan dosa yang ujungnya adalah zina. Allah Ta'ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا 

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk." (Al Isra: 32).

Merayakan valentine's day sudah pasti merupakan suatu yang terlarang karena disamping perayaan ini adalah perayaannya milik kaum nasrani, juga perayaan ini sejatinya akan menghantarkan pelakunya kepada perbuatan zina. Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Hendaknya orang-orang yang menentang perintah rasulullah itu takut, akan datangnya musibah atau adzab besar yang menimpa mereka” (An Nuur: 63).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menyebutkan diantara kerusakan hari valentine yaitu, "Merayakan hari Valentine tidak boleh karena beberapa alasan,

1. Pertama: Valentine adalah hari raya bid'ah yang tidak ada landasannya dalam syariat Islam.

2. Kedua: Perayaan Valentine mengajak kepada gairah dan cinta (yang terlarang).

3. Ketiga: Valentine mengajak orang untuk menyibukkan diri dengan perbuatan rendah yang bertentangan dengan petunjuk generasi awal umat ini yang shalih radhiallahu anhum." (Majmu' Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin jilid 16).

Fatwa Lajnah Daimah tentang Valentine's day: Valentine’s day termasuk dalam perayaan yang disebutkan di atas. Karena perayaan itu berasal dari perayaan-perayaan paganisme Kristen. Maka TIDAK HALAL bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk:

1. Ikut merayakannya, atau
2. Menyetujuinya atau
3. Mengucapkan SELAMAT.

Bahkan yang wajib adalah MENINGGALKAN dan MENJAUHInya, dalam rangka memenuhi (perintah) Allah dan Rasul-Nya, dan agar jauh dari sebab-sebab kemurkaan dan siksa-Nya.

Sebagaimana DILARANG pula atas seorang muslim untuk MEMBANTU pelaksanaan/penyelenggaraan perayaan tersebut (Valentin’s Day), atau perayaan-perayaan haram lainnya, dalam bentuk apapun, baik berupa makanan, minuman, jual beli, kerajinan tangan, hadiah, surat/pesan (SMS), pengumuman/iklan, dan yang lainnya.

Karena itu semua termasuk bentuk Ta’awun (kerja sama/saling menolong) dalam dosa dan permusuhan. AllahTa’ala berfirman,

 وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Saling menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling menolong dalam dosa dan permusuhan. Sesungguh Allah sangat keras adzab-Nya.” (QS. Al-Maidah :2)

Wajib atas seorang muslim untuk BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH dalam semua kondisinya. Terlebih lagi pada masa-masa penuh fitnah dan banyaknya kerusakan.

Hendaknya dia menjadi seorang yang jeli dan waspada dari terjatuh kepada kesesatan-kesesatan orang-orang yang dimurkai (oleh Allah), orang-orang tersesat dan fasik, yang tidak percaya akan kebesaran Allah, dan sama sekali tidak peduli terhadap Islam.

Hendaknya setiap muslim kembali kepada Allah, dengan mengharap dari-Nya hidayah-Nya dan kokoh di atas hidayah tersebut. Sesungguhnya tidak ada yang memberi hidayah dan mengokohkan di atas-Nya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-Ifta).

Ditulis oleh akhukum fillah, Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bulusan kampung halamanku, Kota Semarang, Jum'at pagi, 20 Jumadil Akhirah 1441 H.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf
Free for share