SIAPAKAH ULAMA RABBANI ?


Ulama adalah pewaris ilmu dari para Nabi, tegaknya agama ini ada di tangan mereka. Ada beberapa gelintir orang yg dangkal ilmunya sembarangan dalam menafsirkan makna ulama, terutama memahami Surat Fathir ayat 28. Mereka mengatakan ulama itu juga bisa seekor ular, katak, orang bodoh, jin dll. Allahul musta'an, ia seenaknya menafsirkan lafazh ulama dan disandingkan dengan sesuatu yg tak berakal, Na'udzubillahi mjn dzalik. Lalu siapakah ulama robbani sejati?, Ulama yg benar-benar memahami perkara agama Islam, dan mengajak umat kepada Allah ta’ala saja, tanpa mengikat jamaah dengan dirinya, yayasannya, atau kelompoknya?

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: “Seorang ulama bukanlah orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan, akan tetapi sesungguhnya seorang ulama adalah orang yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya, dan mengetahui keburukan lalu ia berusaha menjauhinya.”. (Lihat Min A’laami as-Salaf, II/81).

Ulama Robbani yang sesungguhnya adalah siapa saja yang memahami agama Islam dengan benar yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang shohih dengan baik dan benar. Dan ilmu yg dimilikinya dapat menumbuhkan rasa takut n tunduk di dalam hatinya hanya kpd Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ 

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Surat Fathir: 28)

Dalam segi bahasa jika kita lihat sebagai pelaku dalam ayat ini adalah: Para ulama, yaitu adalah merek orang yang paling khawatir dan paling takut kepada Allah. Sedangkan Lafdzul jalalah (Allah) sebagai obyek didahulukan. Adapun faedah dan fungsi didahulukannya peletakan obyek ini adalah: untuk membatasi kerja subyek. Maksudnya yang takut kepada Allah Ta’ala tak lain hanyalah para Ulama. Karena jika subyeknya yang didahulukan pasti akan mengandung makna yang berbeda, menjadi "Sesungguhnya para ulama kepada Allah," makna seperti ini tidak dibenarkan, karena adapula di antara para Ulama yang tidak takut kepada Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Hal ini menunjukkan bahwa setiap yang takut kepada Allah maka dialah orang yang Alim, dan ini adalah haq. Dan bukan berarti setiap yang alim akan takut kepada Allah” (Dari kitab “Majmu' Al Fatawa”,  7/539. Lihat “Tafsir Al Baidhawi”, 4/418, Fathul Qadir, 4/494).

Singkatnya bahwa sesungguhnya para Ulamalah pemilik rasa takut kepada Allah, dan sesungguhnya siapa saja yang tidak takut kepada Allah berarti dia bukanlah seorang alim. Tidak ada Ulama menurut Allah bisa kambing bisa ayam bisa ular yang dan yg penting takut kepada Allah.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dan benar-benar takut adalah para Ulama yang mereka paham betul tentang hakekat Allah Ta’ala, karena ketika pengetahuan kepada Yang Maha Agung dan Maha Kuasa sudah sempurna dan bekal ilmu tentang-NYA sudah memadai maka perasaan takut kepada-NYA akan semakin besar..”

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radliyallahu Anhu tentang firman Allah Ta’ala :

إنما يخشى الله من عباده العلماء

Dia berkata, "Mereka yang takut kepada Allah adalah mereka yang mengetahui sesungguhnya Allah Kuasa atas segala sesuatu." Said bin Jubair berkata, "Yang dinamakan takut adalah yang menghalangi anda dengan perbuatan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla." Al Hasan Al Bashri berkata, "Orang Alim adalah yang takut kepada yang Maha Pemurah terkait perkara yang Ghaib, menyukai apa yang disukai oleh Allah, dan menjahui apa-apa yang mendatangkan kemurkaan Allah. Lalu beliau membaca Ayat:

 إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dari Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu Anhu dia berkata, "Bukanlah yang dikatakan orang berilmu itu orang yang banyak hafal hadits, akan tetapi yang dinamakan orang berilmu itu orang yang rasa takutnya amat besar."

Sufyan Ats Tsauri meriwayatkan dari Abu Hayyan At Taimi dari seorang lelaki dia berkata, "Seorang yang alim tentang Allah adalah orang yang Alim tentang perintah Allah. Orang yang Alim tentang perintah Allah bukanlah orang yang alim tentang Allah. Adapun  orang yang Alim tentang Allah dan tentang perintah Allah, dialah orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan mengetahui koridor agama serta hal-hal yang difardlukan oleh agama. Adapun orang yang Alim tentang Allah bukanlah orang yang Alim tentang perintah Allah, apabila dia takut kepada Allah Ta’ala dan tidak mengetahui ajaran agama serta hal-hal yang difardlukan oleh agama. Begitupun orang yang Alim tentang perintah Allah bukanlah orang yang alim tentang Allah, jika dia adalah orang yang mengetahui batasan-batasan dan hal-hal yang difardlukan oleh agama akan tetapi sama sekali tidak takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla." (Dikutip dengan ringkas dari “Tafsir Ibnu Katsir, 4/729)

As Sa’di Rahimahullah berkata : “Setiap orang yang pengetahuannya kepada Allah sangat mendalam, maka dialah orang yang banyak takut kepada Allah. Maka rasa takutnya kepada Allah mewajibkan dia menghindari prilaku maksiat dan selalu bersiap diri menjumpai yang ia takuti. Ini merupakan bukti dari keutamaan ilmu, karena sesungguhnya ilmu itu menuntun untuk takut kepada Allah, dan orang yang biasa takut kepada Allah maka dia layak mendapat karomah-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ  

"Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhan-Nya."  (QS Al Bayyinah: 8)

Kesimpulannya bahwa penggunaan subyek dalam ayat tersebut adalah para Ulama. Pengertian ayatnya adalah, "Sesungguhnya tidak ada yang takut kepada Allah Ta’ala melainkan para Ulama. Merekalah yang paling mengetahui kekuasaan-Nya dan kemampuan-Nya. Tidak ada maksud dari ayat tersebut bahwa Allah Ta’ala-lah yang takut kepada para Ulama karena Allah lebih agung, lebih Mulia dari yang demikian. Tidak ada pulan makna Ulama menurut Allah bisa kambing bisa ayam bisa ular yang dan yg penting takut kepada Allah. Bisa jadi orang yang berkata seperti ini karena sengaja atau kebodohan dalam dirinya atau ingin mencari sensasi atau lainnya.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan kepada kita semua rizki berupa ilmu yang manfa’at dan amal shalih.
..................................................
Akhukum fillah Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bandungan, Kab. Semarang, Rabu malam kamis, 3 Rajab 1441 H/26 Februari 2020 M, 20.13 WIB.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf.
Free for share.