PERJUANGAN HINGGA AKHIR



Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Perjuangan itu tiada henti sampai kita korbankan diri hingga titik terakhir, saat-saat jiwa patriotisme muncul engkau akan semangat membara. Untuk membela prinsip dan harga diri maka dibutuhkan perjuangan terlebih membela agama kita, aqidah tauhid sebagai jalan bagi kita untuk masuk ke surga. Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً ، فَأَىُّ ذَلِكَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا ، فَهْوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »

Dari Abu Musa, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata, ada seseorang yang berperang (berjihad) untuk membela sukunya (tanah airnya); ada pula yang berperang supaya disebut pemberani (pahlawan); ada pula yang berperang dalam rangka riya’ (cari pujian), lalu manakah yang disebut jihad di jalan Allah? Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Siapa yang berperang supaya kalimat Allah itu mulia (tinggi) itulah yang disebut jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menunjukkan niatan jihad yang benar apabila dilakukan ikhlas karena Allah dan meraih ridho-Nya. Sedangkan jika seseorang berjihad untuk disebut pemberani atau pahlawan; untuk membela kaum, negeri atau tanah airnya; atau supaya ia tersohor di kalangan orang banyak, maka ini semua adalah niatan yang keliru. Karena setelah ditanya niatan seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas beralih dengan mengatakan bahwa jihad itu untuk membela kalimat Allah, artinya untuk membela Islam.

Tentu hidup ini ada prolog juga epilognya, ada awal ada akhir, semua harus kita lalui dengan penuh perjuangan. Maka pandai-pandailah kita dalam memanfaat sisa-sisa waktu yang terus berjalan guna memcapai tujuan kehidupan setelahnya. Jangan mudah mengeluh, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

وعن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. 

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. al-Bukhâri 6053)

Seorang muslim harus selalu muhasabah dalam perjuangan hidupnya. Perjuangan dan ikhtiar yang perlu dilakukan oleh seorang hamba untuk mencapai titik kesuksesan. Lihatlah penggembala yg sabar mencari rumput, naik turun bukit, alangkah nikmatnya perjuangan hidup mereka, petani yang berat bekerja untuk menanam padi, para pembuat gula aren yang sangat sabar sekali dalam membuat gula yang citarasanya enak.

Mempertahankan suatu idealisme bukanlah suatu hal yang mudah dan sederhana. Bersamaan dengan berjalannya waktu idealisme yang kita miliki akan terkikis habis hingga menjadi punah, apalagi jika kita memiliki menta-mental yang lembek. Bila

Dari sekian banyak kiat untuk mencapai kesuksesan tersebut, adalah kesabaran dan keuletan kerja. Dari kesabaran akan melahirkan berbagai kekuatan dan kemampuan tersembunyi yang kita miliki tanpa kita sadari. Begitu pula dgn orang yg hidup kesusahan, mereka yang sukses pun harus bersusah payah untuk mencapai kesuksesan. Maka seorang muslim hendaknya selalu bersabar demi mencapai keridhoan RabbNya dan demi tujuan dunia akhiratnya. Allah berfirman dalam ayat-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu sukses” (Q.S Ali Imran:200)

Kesabaran memang sudah menjadi tabiat seorang mukmin sejati. Rosulullah pernah bersabda

“Sangat mengagumkan kondisi orang mukmin, sebab segala keadaannya untuk dia sangat baik dan tidak mungkin terjadi yang demikian kecuali bagi seorang mukmin:jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukurnya itu lebih baik baginya dan jikalau menderita kesusahan ia bersabar dan sabar itu lebih baik baginya”. (H.R Muslim)

Seorang mukmin memiliki sifat sabar karena kesbaran adalah sunatullah, kehidupan dunia ini penuh dengan perjuangan dan pasti akan menemui rintangan dan cobaan, seorang mukmin akan sadar bahwa semua ujian dan rintangan yang ditemuinya berasal dari Allah dan segala sesuatunya itu kelak akan kembali kepada-Nya, seorang mukminm juga akan yakin dengan kesabarannya itu akan memperoleh ganjaran di akhirat kelak. Itulah sebenarnya keberhasilan dan kesuksesan bagi seorang mukmin

Ada dua buah hasil yg akan kita petik dr perjalanan kesabaran ini, yaitu dalam kehidupan di dunia, minimal kita kan memiliki perasaan ridha rela, memiliki ketenangan, perasaan bahagia, apalagi Allah telah menjajikan bahwa Allah akan menyertai orang-orang yang sabar. Kemudian dengan kesabaran dan ketabahan yang kita miliki, maka kemenangan, kemuliaan dan kebaikan akan terwujud bagi diri kita. Adapun buah (hasil) yang akan kita rasakan di akhirat kelak adalah kenikmatan yang tiada taranya yaitu kehidupan surga yang abadi. Wallahu a’lam.

Ds. Pledokan, Sumowono, Kab. Semarang, Ahad, 8 Jumadil Awal 1438 H/5 Februari 2017 M, 17.22 WIB. Ditulis saat turun kabut.