Mengapa Masih Saja Berpaling Dari Kitabullah?


Allah Ta'ala berfirman :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا 

Allah berfirman: Dan Rasul berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (QS Al-Furqan 30).

Syeikh Al-‘Allamah Asy-Syingqiti rahimahullah berkata menafsirkan ayat diatas: Suatu keharusan bagi setiap individu  muslim untuk takut akan hari d imana diperlihatkannya amalan kita dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka hendaklah kita perhatikan ayat di atas baik-baik dan kita resapi maknanya berkali-kali, agar kita bisa mencari jalan keluar bagi diri kita sendiri dari bencana besar yang telah menimpa umat Islam saat ini, yaitunya perbuatan “Hajrul Quran”(mengabaikan Al Qur'an). (Adhwaul Bayan, 7/262).

Apa itu hajrul qur'an?, kata hajr (الهَجْرُ) dalam bahasa Arab adalah lawan kata dari washl (الوَصْلُ) yang bermakna menyambung. Dengan demikian kata hajr bermakna memutus. Sedangkan maksud dari hajrul Qur’an adalah meninggalkan al-Qur’an dan berpaling darinya, seperti tidak mengimaninya, tidak membacanya, tidak mau mendengarkannya, tidak mau memahami dan mentadabburinya, serta tidak mengamalkannya.

Berkata imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang sifat orang-orang yg mengabaikan Al Qur'an,

"Dan mereka, apabila dibacakan Alquran, mereka banyak berbuat gaduh dan sibuk dengan perkataan yang lain, sehingga mereka tidak mendengarkan bacaannya, maka ini termasuk berpaling dari Alquran.

Dan meninggalkan ilmu tentangnya serta menghafalkannya juga termasuk berpaling dari Alquran.

Dan meninggalkan dari mengimani serta membenarkannya, termasuk perbuatan meninggalkan Alquran.

Dan meninggalkan dari menadabburi serta memahaminya, termasuk perbuatan berpaling dari Alquran.

Dan meninggalkan dari beramal dengannya, yakni mematuhi perintah-perintah di dalamnya, serta menjauhi larangan-larangannya, termasuk perbuatan berpaling dari Alquran.

Dan cenderung kepada yang lainya, seperti syair, nyanyian, perbuatan sia-sia, perkataan dan jalan hidup yang tidak bersumber dari Alquran,  juga termasuk perbuatan berpaling dari Alquran.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 6 halaman 108).

Diantara bentuk mengabaikan kitabullah/hajrul Qur'an adalah:

١- ﻫﺠﺮ ﺳﻤﺎﻋﻪ، ﻭﺍﻹ‌ﻳﻤﺎﻥِ ﺑﻪ، ﻭﺍﻹ‌ﺻﻐﺎﺀِ ﺇﻟﻴﻪ

1. Meninggalkan dari mendengarkannya, mengimaninya, dan mengkonsentrasikan pendengaran kepadanya.

٢-ﻫﺠﺮ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ، ﻭﺍﻟﻮﻗﻮﻑِ ﻋﻨﺪ ﺣﻼ‌ﻟﻪ ﻭﺣﺮﺍﻣﻪ ﻭﺇﻥ ﻗﺮﺃﻩ ﻭﺁﻣﻦ ﺑﻪ

2. Meninggalkan beramal dengannya, dan berhenti disisi halal dan haramnya, walaupun ia membaca dan mengimaninya.

٣- ﻫﺠﺮ ﺗﺤﻜﻴﻤﻪ ﻭﺍﻟﺘﺤﺎﻛﻢ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ ﻭﻓﺮﻭﻋﻪ، ﻭﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻧﻪ ﻻ‌ ﻳﻔﻴﺪ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ، ﻭﺃﻥَّ ﺃﺩﻟَّﺘﻪ ﻟﻔﻈﻴﺔٌ ﻻ‌ ﺗﺤﺼﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ

3. Meninggalkan berhukum dan menjadikannya hakim padanya dalam ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya, dan percaya bahwasanya Al Qur'an tidak menghasilkan keyakinan, dan sesungguhnya dalil dalilnya adalah lafazh yang tidak menghasilkan ilmu.

٤- ﻫﺠﺮ ﺗﺪﺑُّﺮﻩ ﻭﺗﻔﻬُّﻤﻪ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﻣﺎ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻤﺘﻜﻠﻢ ﺑﻪ ﻣﻨﻪ

4. Meninggalkan dari mentadabburinya, merenungi dan memahami, serta mengetahui apa yang Pembicara (Alloh) inginkan (maksudkan) di dalamnya dari Al Qur'an itu.

٥- ﻫﺠﺮ ﺍﻻ‌ﺳﺘﺸﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻱ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻣﺮﺍﺽ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﻭﺃﺩﻭﺍﺋﻬﺎ، ﻓﻴﻄﻠﺐ ﺷﻔﺎﺀ ﺩﺍﺋﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﻳﻬﺠﺮ ﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻱ ﺑﻪ

5. Meninggalkan mencari kesembuhan dan berobat dengan Al Qur'an pada semua penyakit hatinya dan penyakit lainnya, tetapi mencari kesembuhan penyakitnya dari selainnya (Al Qur'an), dan meninggalkan obat obatan darinya (Al Qur'an). (Al-Fawaa'id, karya Ibnul Qayyim, 1/82)

Maka hendaknya kita takut akan ancaman Allah ta'la dalam firman-Nya ketika kita berpaling dari Al-Quran

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ () قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا () قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ 

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Quran) maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Berkatalah ia: "Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". (QS. Thaha : 124 - 126).

Lalu apa tujuan utama kita membaca Al Qur'an?

Berkata Al Imam Al Ajurri rahimahullah,
“Tujuan utama ketika mulai membaca Alquran adalah kapan aku mendapat pelajaran dari yang aku baca? Tujuannya bukan menghatamkan bacaan Alquran semata!!, Namun tujuannya adalah:

1. Kapankah aku memahami firman Allah??!
2. Kapankah aku meninggalkan larangan-Nya ???!
3. Kapankah aku bisa mengambil pelajaran darinya??!

Karena membaca Alquran adalah ibadah.
Tidak akan bermanfaat jika dilakukan dengan hati yang lalai. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. (Akhlak Hamalatul Qur’an, hal: 10).

Ditulis oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bandungan, Kab. Semarang, Senin pagi, 23 Jumadil Akhirah 1441 H/ 17 Februari 2020.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf
Free for share