MENAKAR KEIKHLASAN HATI


Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Ikhlas, amatlah kita perlukan. Karena inilah landasan setiap amalan itu diterima. Keikhlasan dalam ibadah itu, ibarat ruh dalam jasad. Jasad tanpa ruh menjadi bangkai yang tidak bernilai. Demikian pula amalan, jika dilakukan tanpa keikhlasan maka tidak ada nilainya, bahkan suatu amalan tidak dikatakan amal shalih tanpa keikhlasan. Banyak dalil, baik dari Alquran maupun sunnah yang mengajak untuk selalu ikhlas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (al-Bayyinah/98:5).

Di terangkan oleh lmam Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qoyyim rahimahullah mengenai definisi ikhlas

 الإخلاص : استواء اعمل العبد في الظاهر و الباطن
 و الرياء : ان يكون ظاهره خيرا من باطنه
 والصدق في الإخلاص : ان يكون باطنه اعمر من ظاهره

"Keikhlasan adalah persamaan antara amal seorang hamba antara yang nampak dan yang tersembunyi, sedang riya' adalah manakala yang tampak lebih baik dari yang tersembunyi (batinnya),dan kejujuran dalam keikhasan adalah manakala yang tersembunyi (batin) lebih makmur dari yang tampak (kitab madarijus salikin 2/91)

Keikhlasan di definisi kan oleh sebagian ulama dengan makna,

ان لا تطلب على عملك شاهدا غير الله و لا مجازيا سواه

"Engkau tidak mencari saksi atas amal kebaikanmu kecuali Allah, dan tidak mengharap balasan selain dari Nya." (Al ma'rifah wat tarikh 1/679, hilyah 3/340, syuabul iman 6490)

Tsa’lab rahimahullah menjelaskan tentang siapakah orang-orang yang ikhlas itu. Beliau berkata,

“Yaitu orang-orang yang memurnikan ibadahnya untuk Allah ta‘ala, dan mereka itulah orang-orang yang dipilih oleh Allah ‘azza wa jalla.

Sehingga orang-orang yang ikhlas itu adalah orang-orang pilihan. Orang-orang yang ikhlas adalah orang-orang yang bertauhid. Adapun yang dimaksud dengan kalimatul ikhlas adalah kalimat tauhid”. (Ta’thir al-Anfas, Hal. 85)

Bagai air dan api, tidak mudah untuk menundukkan hawa nafsu seseorang yaitu antara ikhlas dan senang dipuji. Ibnul Qayyim rahimahullah kembali berkata: “Tidak akan berkumpul antara ikhlas dalam hati dengan senang pujian, sanjungan serta ambisi meraih apa yang orang miliki kecuali seperti berkumpulnya air dengan api, dhab (hewan padang pasir) dengan ikan paus. Apabila engkau sudah istiqamah menyembelih ambisi (ketamakan) dan zuhud (tidak butuh) dengan pujian dan sanjungan barulah ikhlas itu akan mudah engkau gapai” [al Fawaid hal. 149].

Imam Abu Utsman Said bin Ismail rahimahullah berkata tentang hakikat ikhlas: "hakikat keikhlasan ialah engkau tidak memandang pandangan manusia, karena memandang al Khaliq (Allah),

Sedang keikhlasan yang engkau kehendaki dari hati dan amal perbuatanmu adalah keridhaan Allah subhanahu wa taala dan takut akan kemurkaan Nya,

Dengan demikian, hakikat (dari) amal perbuatanmu adalah seakan engkau melihat Nya dan bahwa Dia sedang melihatmu, dengan demikian riya' akan sirna dari hatimu,

Kemudian engkau mengingat anugerah Allah subhanahu wa taala atas mu tatkala Dia memberimu taufiq (bimbingan) untuk mengerjakan amal tersebut, sehingga rasa ujub (merasa takjub pada diri) sirna pula dari hatimu,

Dan hendaknya engkau menggunakan cara terbaik dalam beramal, sehingga hilang darimu sifat ketergesa gesaan dari hatimu,

Sifat al ajalah (ketergesaan) adalah mengikuti hawa nafsu, sedang sifat ar rifqu (lembut) adalah mengikuti sunnah Nabi shalallahu alaihi wa salam,

maka jika engkau telah menyempurnakan amalmu, bergetarlah hatimu karena khawatir jika amalmu di tolak oleh Allah subhanahu wa taala dan tidak diterima oleh Nya,

Maka barang siapa mengumpulkan keempat sifat tersebut, insya Allah dia termasuk orang yang ikhlas dalam beramal" (Al Imam Al Baihaqi dalam syuabul iman 6475)

Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan.

Dan ikhlas adalah perkara yang sulit kecuali bagi yang jujur dan tulus dalam meniti jalan menuju ridho Allah ta'ala. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

"Ikhlas itu sangat sulit, kecuali bagi orang yang menghadap Allah 'azza wa jalla dengan penuh kejujuran, dan ketulusan dalam meniti jalan yang lurus, maka Allah 'azza wa jalla pasti akan menolong dan memberi kemudahan kepadanya." (al-Qaulul Mufid: 1/ 123)

Jadi, solusi ikhlas ialah dengan menghapuskan pertimbangan-pertimbangan pribadi, memotong kerakusan terhadap dunia, mengikis dorongan-dorongan nafsu dan lainnya.

Dan bersungguh- sunguh beramal ikhlas karena Allah, akan mendorong seseorang melakukan ibadah karena taat kepada perintah Allah dan Rasul, ingin selamat di dunia-akhirat, dan mengharap ganjaran dari Allah. Manusia disyariatkan Allah agar berdoa. Di antara doa itu ialah :

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ

_"Ya, Allah. Sesungguhya kami berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui. Dan kami memohon ampun kepadaMu dari sesuatu yang kami tidak mengetahuinya."_ [HR. Ahmad 4/403 dan sanadnya hasan. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam lainnya].

Ya Allah, kami memohon kepada Mu keihlasan dalam ucapan dan amalan


Bulusan kampung kelahiranku, Tembalang ,Kota Semarang, Selasa siang,10 Jumadil Akhirah 1441 H / 4 Februari 2020