MENAGIH HUTANG SETIAP HARI



Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Diantara anjuran bagi seorang muslim adalah kewajibannya dalam membayar hutang. Hutang merupakan kemudahan yang dibolehlan oleh syariat kepada sesama manusia, terlebih kaum muslimin. Namun apa jadinya bila pihak pemberi hutang atau pihak yang meminjami terdholimi? Pasti sangat menyakitkan. Sudah meminjami harus terdholimi, enak saat meminjam, bermuka manis saat meminjam, namun pahit saat ditagih dan mengembalikan. Kata pepatah jawa "wis ditulungi malah mentung", sudah ditolong malah balik memukul atau melawan.

Bahkan sering kita jumpai karena hutang ukhuwah menjadi korban, dan saling baku hantam. Atau karena tidak enakan mau menagih karena saudara sendiri atau teman sendiri, padahal sah untuk menagihnya. Intinya banyak sekali faktor yang mempengaruhi terjadinya hal tersebut. Syari'at sendiri mengajarkan kepada kita diantara adab-adab dalam berhutang mencatat akad hutang piutang dan menghadirkan saksi. Hal ini Allah ta'ala firmankan dalam ayat hutang piutang yang sangat panjang yaitu surat Al Baqarah ayat 282.

Tatkala hutang tersebut telah dicatat dan diberi persaksian serta tenggat waktu pembayaran, maka antara kedua belah pihak harus saling memahaminya. Diantara hal yang paling penting bila hutang tersebut memang sudah jatuh tempo pembayaran sedangkan orang yang berhutang sengaja menunda pembayaran meski dia memiliki harta yang bisa digunakan untuk melunasi, maka orang yang berhutang telah berbuat kedholiman. Tentu hal ini banyak dilanggar oleh pihak penghutang. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"

مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ

"Menunda pembayaran hutang padahal mampu, termasuk kedholiman”. (HR. Bukhori, no. 2400 dan Muslim no.1564)

Dalam hadits lain disebutkan,"

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوْبَتَهُ 

"Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan memberikan sanksi kepadanya" (HR. Abu Daud no.3628 dan an-Nasa'i no.4689 dan Ibn Majah no.2427 dan Ahmad 29/465 dan yang lainnya)

Oleh karena si penghutang telah berbuat dhalim maka kita harus menolongnya. Apabila kita mendapati orang yang berhutang kepada kita melakukan penundaan pembayaran padahal dia mampu maka kita harus menolongnya dari kedholimannya. Tentu dengan cara mengingatkannya supaya tidak terjerumus dalam kedholiman. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

"Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia dhalim atau didhalimi." (HR. Bukhari no.2443 dan yang lainnya).

Diantara cara kita untuk menolongnya adalah menasehati dan menagih kepadanya secara langsung atau tidak langsung supaya dia segera melunasi hutangnya. Dan tidak boleh ada rasa iba atau tidak enakan dalam masalah semacam ini. Bicaralah dengannya secara empat mata, yang dimaunya apa dan bagaimana. Selanjutnya sebagai pembelajaran jangan memberinya hutang lagi bila ia masih belum berubah dari kebiasaan penundaannya supaya kedholimannya tidak bertambah.

Dan diantara adab mulia lainnya Apabila orang yang berhutang sedang dalam kesusahan sehingga belum mampu untuk melunasi hutangnya maka seharusnya ia diberi tempo. Atau bersabar sampai ia benar-benar mampu. Allah ta'ala berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 280:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui."

Memberi tempo kepada orang yang mengalami kesulitan dalam membayar merupakan amalan yang pahalanya besar. Dalam salah satu riwayat disebutkan,"

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ "، قَالَ: ثُمَّ سَمِعْتُهُ يَقُولُ: " مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ "، قُلْتُ: سَمِعْتُكَ يَا رَسُولَ اللهِ تَقُولُ: " مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ "، ثُمَّ سَمِعْتُكَ تَقُولُ: " مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ "، قَالَ لَهُ: " بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ، فَإِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَأَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ "

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, berkata,"Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan (dalam membayar utang), maka pada setiap hari dia mendapat ganjaran sedekah yang sebanding dengannya”.

Dia berkata, kemudian aku mendengar beliau bersabda: “Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan (dalam membayar utang), maka pada setiap hari dia mendapat ganjaran sedekah dua kali lipat darinya.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, saya mendengar Anda bersabda, “Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan (dalam membayar utang), maka pada setiap hari dia mendapat ganjaran sedekah yang sebanding dengannya”. Kemudian saya mendengar Anda bersabda: “Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan (dalam membayar utang), maka pada setiap hari dia mendapat ganjaran sedekah dua kali lipat darinya?.”

Beliau menjawab: “Dia mendapat ganjaran sedekah yang sebanding dengannya” yaitu sebelum sampai waktu membayar utang, apabila telah sampai waktu membayar utang, lalu dia menangguhkannya, maka pada setiap hari dia mendapat ganjaran sedekah dua kali lipat darinya.“ (HR Ahmad 38/153 no. 23046, dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 1/170 no.86).

Tentu hal diatas sangat berat bagi seseorang yang meminjami, maka sebagai seorang mukmin pun kita harus berpikir cerdas, sebelum menghutangi kita harus melihat dulu segi kemampuan (keuangan kita), kondisi orang yang akan kita hutangi apakah dia mampu atau tidak, atau setidaknya tahu karakter dan wataknya, kepribadiannya kepada selain kita apakah ia termasuk orang yang amanah atau bukan. Paling berat lagi untuk mengikhlaskannya adalah apabila hutang tersebut dalam jumlah banyak, tentu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selain diperintahkan untuk mencatat akad hutang piutang dan menghadirkan saski, diantara hal penting dan boleh adalah adanya barang gadai.

Dengan adanya barang gadai akan menjamin keamanan utang, dan dianjurkan untuk memberikan gadai. Dan kebiasaan masyarakat, nilai barang gadai lebih besar dari pada nilai utang. Tentang keberadaan gadai, Allah memberikan arahan dalam firman-Nya,

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah secara tidak tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang mengutangi). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.” (QS. al-Baqarah: 283).

Tentu dengan adanya barang gadai, tanggungan utang akan lebih ringan. Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gadai sampai-sampau “baju besi beliau tergadaikan kepada orang yahudi.” Dan tentu saja, nilai baju besi beliau lebih mahal dibandingkan 30 sha’ gandum.

Perlu diketahui bahwa transaksi gadai, digolongkan para ulama sebagai akad tautsiqat, yaitu akad yang tujuannya memberikan jaminan kepercayaan kepada pelaku akad. Oleh karena itu akad ini bisa berlaku dalam transaksi komersil lainnya (muawwadhat) seperti utang piutang maupun transaksi non-komersil (tabarru’at), seperti jual beli, bahkan termasuk dalam akad musyarakah, seperti mudharabah.

Tujuan akad gadai ini adalah untuk jaminan kepercayaan, dan sifatnya tambahan. Bisa ditambahkan di akad apapun. Karena itu, akad ini tidak memberikan konsekuensi terhadap perpindahan kepemilikan barang gadai, barang yang digadaikan tetap menjadi milik dari orang yang berhutang. Konsekuensi dari akad ini adalah,

[1] barang gadai statusnya amanah bagi murtahin (yang memberi utang).

[2] barang gadai tetap menjadi milik rahin (yang berutang).

[3] jika terjadi kegagalan, misalnya utang bermasalah atau transaksi yang dijamin bermasalah, barang gadai tidak otomatis pindah kepemilikan.

[4] semua biaya perawatan barang gadai, ditanggung oleh rahin (yang berutang), karena ini memang miliknya.

Intinya dalam transaksi gadai ini tujuan utamanya hanya untuk jaminan kepercayaan dan keamanan, dan bukan untuk memberi keuntungan bagi pihak yang menerima gadai (murtahin) atau pemberi hutang.

Kesimpulannya apabila orang yang memberi hutang membebaskan orang yang berhutang dari hutangnya maka itu lebih baik sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 280 di atas. Di samping itu orang yang membebaskan orang yang berhutang dari hutangnya saat dia kesulitan maka Allah akan membebaskannya dari dosa-dosanya ketika dia bertemu dengan Allah azza wa jalla. Dalam salah satu riwayat disebutkan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " كَانَ الرَّجُلُ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ الله أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، قَالَ: فَلَقِيَ الله فَتَجَاوَزَ عَنْهُ 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Pernah ada satu orang yang menghutangi orang-orang, dia berkata kepada pembantunya jika engkau dapati orang yang berhutang mengalami kesusahan (bayar hutang), maka bebaskan hutang darinya, semoga Allah membebaskan (memaafkan) kita, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda maka Allah pun membebaskan (memaafkan) dosa darinya.” (HR. Bukhari No.3480 dan Muslim no.1562 dan yang lainnya).

Terakhir bahwa hutang piutang tidak boleh dianggap sepele, ia adalah kewajiban yang akan ditagih di alhirat kelak. Maka perlu diperhatikan akad-akadnya, syarat-syaratnya, adab-adabnya, sebab kaum muslimin itu berada diatas syarat-syarat mereka. Dalam keterangan diatas boleh terjadinya gadai, namun hanya untuk penguat si penghutang melunasu utangnya.

Bulusan kampung halamanku, Tembalang, Kota Semarang, Senin sore, 9 Jumadil Akhir 1441 H / 3 Februari 2020 M