KUNCI KEAMANAN DAN KEBERKAHAN



Diantara faktor paling utama dan terpenting yang diharapkan oleh seorang muslim untuk dirinya, keluarganya, dan saudara-saudaranya semuslim adalah keamanan dan keberkahan. Termasuk nikmat keberkahan adalah keamanan sebuah negeri. Al-Qur'an mengabarkan kepada kita bahwa kunci keamanan dan keberkahan sebuah negeri adalah

1. Iman dan takwa,
2. Mentauhidkan Allah ta'ala dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Allah ta'ala berfirman,

وَلَو أَنَّ أَهلَ القُرىٰ آمَنوا وَاتَّقَوا لَفَتَحنا عَلَيهِم بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَالأَرضِ وَلٰكِن كَذَّبوا فَأَخَذناهُم بِما كانوا يَكسِبونَ

"Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (al-A'raf: 96)

Keamanan … dan petunjuk (takwa) … adalah dua hal yang saling berdekatan, dan tidak dapat dipisahkan. Jika lenyap salah satu dari keduanya maka lenyaplah yang lain … bahkan jika salah satu dari keduanya tipis maka tipislah yang lain.

Sejalan dengan kehidupan sehari-hari, barangsiapa yg mendapat nikmat aman maka seolah-olah ia telah diberikan dunia dan seluruh isinya, hidupnya tercukupi, di pagi hari ketika terbangun ia tercukupi dgn makanan yg berlimpah dengan nikmat kesehatan dan harmonis rumahtangganya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

"Siapa diantara kalian yang aman di pagi hari di rumahnya, tubuhnya sehat dan ia memiliki makanan untuk hari tersebut maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan kepadanya" (HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan).

Hidayah berupa keamanan dan keberkahan hanya akan diperoleh bila seseorang menjauhi perbuatan kezhaliman, dan diantara kezhaliman terbesar adalah syiril. Allah ta'ala berfirman,

الَّذينَ آمَنوا وَلَم يَلبِسوا إيمانَهُم بِظُلمٍ أُولٰئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am:82)

Yang dimaksud, tidak mencampuri imannya dengan kedzaliman adalah tidak berbuat syirik dan menghindari semua maksiat yang merupakan lawan dari iman. Itu artinya, keamanan dan hidayah keduanya adalah nikmat yang sangat besar dan mulia sekali.

Maka keamanan yang hakiki, bukanlah dengan banyaknya pasukan dan tentara dan bukan pula dengan banyaknya penjaga dan senjata. Keamanan yang hakiki hanyalah timbul dari jiwa mutma’innah (jiwa yang tenang), jiwa yang meridhoi Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Lihatlah khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, seorang amirul mukminin, pemimpin yang sederhana lagi wara', nikmat keamanan dan keberkahan dalam hidup telah banyak beliau dapatkan, disebutkan dalam sebuah kisah,

Seorang utusan Romawi tengah mencari istana Khalifah Umar bin Khaththab untuk sebuah urusan. Setelah beberapa saat tak menemukan istana tersebut, ia akhirnya bertanya kepada orang-orang. Saat ia menanyakan di mana istananya, mereka menjawab: "Ia tidak punya istana." Lalu, ia bertanya di mana bentengnya. "Tidak ada," jawab mereka.

Kemudian, mereka menunjukkan rumah Sang Khalifah yang terlihat seperti rumah kaum tak berpunya. Lantas, ia mendatanginya dan menanyakan keberadaan Amirul Mukminin. Alangkah terkejutnya ia saat mendengar jawaban dari keluarga Umar: "Itu dia di sana sedang tertidur di bawah pohon."

Tentu bukan tanpa alasan bagi seorang dengan gelar Amirul Mukminin (pemimpin kaum Mukmin) yang kekuasaannya terbentang dari Mesir sampai Irak untuk memilih sebatang pohon sebagai istananya.

Umar bukannya tidak mampu untuk membangun istana atau hidup mewah bak seorang raja. Tetapi, Umar lebih memilih kesederhanaan sebagai perhiasan dirinya. Dan itulah nikmat keamanan dan keberkahan yang sesungguhnya.

Bagaimana tidak, Umar adalah khalifah yang memperoleh gaji hanya sebatas kebutuhan pokoknya, memakan roti yang hampir mengeras, dan memiliki dua belas tambalan pada pakaian lusuhnya. Ia adalah pemimpin yang bergantian mengendarai keledai bersama budaknya dalam penaklukkan Kota Al-Quds. Sungguh nikmat yang begitu besar telah menempel dalam diri sang khalifah.

Kisah umar diatas menunjukkan kepada kita bahwa keamanan dan keberkahan tak perlu dengan fasilitas yang mewah, punya istana, harta yang banyak, ajudan yang banyak. Keamanan yang hakiki itu adalah aman dari hal-hal yang menakutkan, aman dari siksa, dan kesengsaraan, serta hidayah, mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus. Inilah keberkahan yg sesungguhnya keamanan hakiki sbagai berkah dari Allah Ta'ala.
................................................
KAPAN KEAMANAN AKAN TERCABUT DARI SEBUAH NEGERI?

"Ketika sebuah negeri jauh dari tauhid, jauh dari keimanan dan takwa, bahkan diliputi oleh kesyirikan, maksiat dan fitnah merajalela, jauh dari syariat, maka ketika itu keamanan akan dicabut sesuai kadar kemaksiatan mereka."

Sesuatu yang berharga, tidak boleh kita sia-siakan. Apalagi kita hilangkan. Karena itulah, kita diperintahkan untuk menjaganya. Ada ungkapan menyatakan,

الفتنة نائمة لعن الله من أيقظها

Fitnah itu sesuatu yang tidur. Allah melaknat orang yang membangunkannya. (Kasyful Khafa’, 2/83)

Allahua'lam bishowab.
..................................................
Akhukum fillah Saryanto Abu Ruwaifi' hafizahullah.

Bandungan, Kab. Semarang, Sabtu sore, 26 Jumadil Aakhirah 1441 H/22 Februari 2020 M, 17.09 WIB.
Free for share.