KETIKA MENDAPAT KRITIKAN SAAT MENJALANKAN SUNNAH


Saat seseorang mulai mengenal sunnah dan aqidah yang benar inilah awal-awal seseorang mulai berhijrah. Saat kita hidup di masyarakat pasti akan banyak pandangan dan cibiran, apalagi kita hidup di lingkungan keluarga atau masyarakat yang notabene ABANGAN.

Yang benar dipandang buruk dan tercela serta pantas untuk dimusuhi dan  orang yang mengamalkannya patut dicurigai sebagai penganut ajaran sesat. Bahkan julukan-julukan negatif pun disematkan kepada kita, entah Wahhabi, Sesat, Radikal, Anti Pancasila, dll. Sedangkan perkara-perkara yang merupakan keburukan dan kemungkaran dalam perspektif syariat Islam justru menjadi kebiasaan dan kebenaran yang mesti diamini oleh segenap anggota masyarakat.

Bila ada yang coba mengkritisi, vonis sesat akan segera tersemat pada orang tersebut. Inilah dampak belum tersebarnya ilmu dan aqidah yg benar di tengah masyarakat. Terlebih kebanyakan masyarakat kita yang abangan, mereka terlena dengan fanatisme golongan, bila kyai, ulama atau tokoh sesatnya atau menyimpangnya dikritisi maka sang pengkritisi akan dipersekusi. Betapa fitnah meledak pada akhir zaman ini.

Mereka masyarakat abangan tidak memahami standarisasi Ilmu yang bersumber dari qâlallâhu wa qâla rasûluhu. Apalagi kebanyakan mereka tahunya ngaju hanya pafa tareka-tarekat fanatik yg dipimpin oleh kyai tertentu, atau tokoh yang mereka ulamakan atau dikyaikan. Ditambah lagi rata-rata pemahaman yang berkembang di sebagian besar masyarakat, adalah amalan yang bersumber pada qiila wa qaala (katanya), ra`yu (pendapat orang) atau istihsân (anggapan baik dari individu tertentu).

Tidak mengherankan bila orang yang berpegang-teguh dengan ajaran Islam dan Sunnah akan merasa terasing meski di kampung halamannya sendiri, dikarenakan ia berpenampilan beda dari kebanyakan orang, memiliki aqidah (keyakinan) yang agak lain daripada yang lain dan mengamalkan amaliah-amaliah ibadah yang tidak biasa dikerjakan oleh lingkungan sekitar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

"Islam bermula dengan terasing, dan akan kembali sebagaimana bermula dalam keadaan terasing. Maka, kemuliaan bagi orang-orang yang terasing”. (HR. Muslim no.232)

Sudah sunnatullah bagi pengikut Rasul shalallahu 'alaihi wasallam dikala menjalankan sunnahnya, akan menghadapi berbagai rintangan dan tantangan serta penuh penghalang terlebih diakhir zaman. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الْقَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

"Akan tiba suatu masa pada manusia, orang yang memegangi ajaran agamanya, layaknya orang yang menggenggam bara api." (HR. At-Tirmidzi. Hadits shahih. Lihat Shahîh al-Jâmi’no.8002).

Wajar bila yang berpegang teguh diatas Syari'at yang benar dengan pemahaman dan aqidah yang benat akan selalu mendapat kritikan, justru kritikan tersebut yg akan menjadi penggerak kita untuk lebih maju dan semangat untuk lebih lagi dalam mengkaji agama yang haq ini. Kritikan yg disampaikan masyarakat biasanya ada dua keadaan:

1. Benar kritik tersebut, maka kita terima.
2. Tidak benar, maka kita terangkan yang benar dengan dasar ilmu dan penuh hikmah.

Kalau yang dimaksudkan celaan masyarakat kepada kita saat menjalankan sunnah, maka sikap yang harus kita ambil adalah bersabar, karena bersabar kala menjalankan ketaatan kepada Allah adalah jenis sabar yang paling utama.

Dalam hadits diatas ada pemberitaan sekaligus bimbingan dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk umatnya, agar mereka bersabar di atas agama dan imannya dikala menghadapi berbagai macam penghalang dan rintangan berupa fitnah syubhat dan syahwat serta para pengusungnya.

Hendaknya seorang mukmin tidak putus asa saat memperjuangkan agamanya, dalam keadaaan demikian ia selalu meminta rahmat Allâh Azza wa Jalla . Pandangannya tidak boleh hanya terpaku pada faktor-faktor yang zhahir saja, akan tetapi hatinya harus kembali kepada Allâh al-Karîmul Wahhâb yang akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan.

Syaikh ‘Abdur Rahmân as-Sa’di rahimahullah telah menerangkan langkah-langkah yang diambil seorang Mukmin guna menghadapi berbagai rintangan dalam menjalankan Islam yang benar dan mendakwahkannya. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Seorang Mukmin dalam kondisi-kondisi demikian adalah orang yang senantiasa mengucapkan lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh, hasbunallâh wa ni’mal wakîl, ‘alallâhi tawakkalnâ (hanya kepada Allâh kami bertawakkal), Allâhumma lakal hamdu, wa ilaikal musytâ, wa antal musta’ân, wa bikal mustaghâts (ya Allâh, bagi-Mu segala puji, dan kepada-Mulah disampaikan keluh-kesah, Engkaulah tempat kami meminta pertolongan, dan bersama Engkaulah segala bantuan), wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil azhâm.

Setelah itu ia melakukan segala sesuatu yang mampu ia perbuat dalam keimanan, menasehati dan berdakwah. Bila belum bisa melakukan perubahan yang besar, perbaikan sekecil apapun ia syukuri. Demikian pula (disyukuri) hilangnya sebagian keburukan atau berkurangnya tingkatan keburukan, bila belum memungkinkan keburukan itu sirna semua.” (Bahjatu Qulûbi al-Abrâr wa Qurratu ‘Uyûnil Akhyâr fî Syarhi Jamâwi’ Akhbâr  hlm. 214)

Kemudian beliau rahimahullah mengutip firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا   

Barang siapa yang bertakwa kepada Allâh, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (Ath-Thalâq/65:2)

Hendaklah kita yakin Allah Ta'ala pasti akan menolong dan membantu kita dalam menegakkan agama ini dengan aqidah dan pemahaman yang benar, serta akan memberikan derajat yang tinggi bagi kita di sisiNya.

Oleh karenanya beliau shalallahu alaihi wasallam memberitakan dalam akhir hadits tersebut;

Dia akan mendapatkan pahala lima puluh orang dari kalangan sahabat yang mengamalkan semisal amalannya.

Semoga kita termasuk yang disebutkan dalam hadits ini, dan semoga Allah ta'ala memudahkan urusan para penyeru umat kepada Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberikan hidayah kepada umat Islam untuk mencintai Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengagungkan dan mengamalkannya. Aamiin.

Ditulis oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bandungan, Kab. Semarang, Rabu siang, 25 Jumadil Akhirah 1441 H/ 19 Februari 2020.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf
Free for share