JADILAH KUNCI PEMBUKA KEBAIKAN


Sudah seharusnya sebagai seseorang yanh bertindak sebagai perintis kebaikan pantas mendapat penghargaan spesial atas kerja keras dan keberaniannya memulai dan mencontohkan kebenaran. Sebaliknya, perintis kejahatan juga sepatutnya menanggung dosa spesial alias sangat berat atas kerja kerasnya dalam membuka dan mengajarkan pintu-pintu kejahatan dan keburukan bagi orang lain. Dan begitulah Kehidupan sebagaimana Rasulullah sallalahu alaihi wasallam bersabda menerangkan kondisi diatas,

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

"Sesunggunya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup kejahatan. Dan di antara manusia itu juga ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kejahatan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan melalui tangannya, dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka kejahatan melalui tangannya." (HR. Ibnu Majah no.237, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shohih Sunan Ibnu Majah no.194)

Hadits diatas merupakan wasiat yang menyeluruh dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Beliau membagi manusia menjadi dua kelompok. Kelompok yang menjadi kunci-kunci kebaikan dan menutup keburukan. Dan ada pula kelompok manusia yang merupakan kunci-kunci pembuka keburukan dan menutup kebaikan.

Inilah diantara bentuk hikmah penciptaan Allah ta'ala, diantara manusia ada yang Allah ciptakan menjadi pemilik kunci-kunci pembuka pintu-pintu kebaikan dan pemilik gembok-gembok penutup pintu-pintu keburukan. Dan masing-masing dari mereka Allah berikan karunia agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Orang-orang yang Allah ta'ala maksud yaitu orang-orang yang dijadikan oleh Allah sebab, dimana orang-orang lain bisa mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, diantaranya adalah para ulama, pemegang kekuasaan (pemrintah), mujahid dll. Maka beruntunglah anda jika bertemu dengan orang-orang ini.

Begitu pula diantara manusia ada yang memiliki gembok-gembok penutup  pintu-pintu kebaikan dan pemilik kunci-kunci pembuka pintu-pintu keburukan, orang-orang seperti ini yaitu orang-orang yang dijadikan oleh Allah sebab, dimana orang-orang tidak bisa mengerjakan kebaikan dan tidak bisa meninggalkan keburukan. Alanhkah berbahayanya orang-orang yang demikian.

Ada beberapa kriteria yang perlu diamalkan jika seseorang menginginkan dirinya menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup kejahatan,

1. Ikhlas semata-mata karena Allah. Ikhlas yang dimaksud adalah dalam seluruh ucapan dan perbuatannya. Karena keikhlasan adalah pondasi setiap kebaikan dan menumbuhkan berbagai keutamaan, terutama ikhlas dalam setia amalan dengan hanya meniatkannya kepada Allah ta'ala semata,

وَمَاأُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ 

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS: Al-Bayyinah: 5).

2. Berdoa dengan pemuh ketundukan kepada Allah, agar dianugerahkan taufiq menjadi kelompok pembuka kunci kebaikan. Sebab doa adalah senjata seorang mukmin dalam membuka setiap kebaikan, dan Allah tidak menolak doa hamba, dan juga tidak menyia-nyiakan permohonan hambaNya yang beriman yang berdoa kepadaNya. Di antara doa yang dituntunkan Alquran adalah:

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ 

“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS:Al-A’raf : 89).

3. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut agar memperoleh ilmu yg nafi', karena ilmu wasilah mengajak kepada berbagai keutamaan dan kemuliaan sekaligus penghalang dari berbagai hal yang tercela dan hina. Janganlah menjadi orang yang sok tahu, namun belajarlah menjadi orang yanh ingin tahu, sebab puncak ilmu adalah ketawadhu'an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” (Muttafqun 'Alaihi).

4. Bersegeralah beribadah kepada Allah, terutama dengan ibadah yang wajib, terkhusus shalat, sebab shalat akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

5. Berhias dengan akhlak yang mulia dan tinggi, dan menjauhkan diri dari akhlak yang rendah dan tercela. Orang yang berakhlak baik dan menjauhi akhlak yang buruk, akhlaknya ini akan menjauhkan dari keburukan. Sebaliknya, apabila seseorang memiliki akhlak yang buruk, maka akhlaknya akan mendekatkannya kepada keburukan.

6. Memilih teman yang baik, bermajelis dengan orang-orang sholih, karena bermajelis dengan mereka akan menjadi sebab para malaikat akan menaungi dan meliputinya dengan rahmat. Dan juga berusaha menjauhkan diri dari majelis orang-orang yg buruk dan pelaku maksiat, karena majelis tersebut disertai oleh syeithon. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

“Seseorang itu tergantu agama teman akrabnya. Karena itu, perhatikanlah siapa teman dekat kalian.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

7. Saling menasehati diantara hamba-hamba Allah tatkala bersosialisasi dan berinteraksi dengan mereka, berusaha menyibukkan mereka dengan kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan. Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ , الدِّينُ النَّصِيحَةُ, الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama ini adalah nasihat. Agama ini adalah nasihat. Agama ini adalah nasihat.” (HR. Muslim).

8. Mengingat hari akhir, tatkala tiap-tiap diri akan berdiri dihadapan Allah Rabbul 'alamin. Pada hari itu pelaku kebaikan akan diberi ganjaran atas kebaikannya, dan pelaku kejahatan dakan dibalas atas kejahatannya. Allah ta'ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al-Zilzalah :7-8).

Menjadi kunci-kunci kebaikan dan penutup pintu keburukan tidaklah mudah. Tentu ada saja hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan baik dari dalam diri kita sendiri ataupun dari orang lain. Ingatlah perjuangan dakwah kita belumlah seberapa bila dibanding para Nabi ‘alaihimush-shalâtu wassalâm.  Rasululullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Saad bin Abi Waqqâsh radhiallâhu ‘anhu

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

“Ya Rasulullah! Manusia manakah yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keberagamaannya. Jika agamanya kuat maka akan ditambahkan ujian itu. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar keberagamaannya.” (HR.Tirmidzi No. 2398 dan Ibnu Mâjah No. 4523).

Untuk sukses menjadi pembuka kunci kebaikan tentunya seseorang perlu menopang dirinya dengan pengharapan kebaikan dan pahala kepada Allah ta'ala dalam memberi manfaat kepada orang lain. Maka tatkala pengharapan tegak, niat yang benar dan tekad yang kuat disertai dengan memohon pertolongan Allah pada semua urusan serta menempatkan segala sesuatu pada posisinya, Allah akan mudahkan seseorang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan sekaligus penutup kejahatan.

Ditulis oleh akhukum fillah, Saryanto ABU RUWAIFI' hafizhahullah

Bandungan, Kab. Semarang, Senin siang 16 Jumadil Akhirah 1441 H.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf
Free for share