BILA ENGKAU TERPUKAU MELIHAT GEMERLAPNYA DUNIA


Dunia begitu manis bagi orang yang tertipu olehnya. Dunia itu manis, hijau, dan penuh akan perhiasan yang menggiurkan. Dunia membuat orang yang memandangnya akan tertipu oleh fatamorgana. Hati yang Berangan-angan kepadanya menganggap bahwa ia adalah kehidupan yang abadi dan sebenarnya. Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita. (HR Muslim, no. 2742)

Lafazh dunia dalam bahasa Arab diambil dari kata "dana", "yudni", “dunuwun” yang artinya dekat, dinamakan dunia karena ia hanya sementara dan dekat dengan akhirat. Atau juga diambil dari kata “dani’ah” yang artinya rendah, hina, dinamakan dunia karena ia terhina dan tercela serta tidak ada harganya jika dibandingkan dengan akhirat. Allah ta'ala berfirman,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut : 64).

Jangan sampai kita terpedaya dan silau dengan dunia sehingga melupakan akhirat. Karena seandainya manusia hidup puluhan tahun di dunia ini, dengan berbagai kenikmatan yang dimiliki, sesungguhnya semua itu kecil dibandingkan kenikmatan akhirat. Imam Nawawi rahimahullah berkata:

وَإِذَا رَأَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ قَالَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ 

"Bila seseorang melihat sesuatu yang membuatnya silau (kagum); hendaklah dia ucapkan:

لَبَّيْكَ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ 

Labbaika innal 'aisya 'aisyul aakhiroh

"Aku penuhi panggilan-Mu (Ya Allah). Sesungguhnya kehidupan sebenarnya adalah kehidupan akhirat." (Al Minhaj, VIII/91).

Asy-Syaikh Al 'Utsaimin rahimahullah menyatakan hal serupa:

كان الرسول صلى الله عليه وسلم إذا رأى ما يعجبه في الدنيا يقول: «لبيك! إن العيش عيش الآخرة» لتوجيه النفس إلى إجابة الله؛ لا إلى إجابة رغبتها

"Kebiasaan Rasulullah ﷺ; apabila ada perkara dunia yang membuat beliau takjub; beliau mengucapkan:

لَبَّيْكَ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ 

"Labbaika innal 'aisya 'aisyul aakhiroh."

"Aku penuhi panggilan-Mu (Ya Allah). Sesungguhnya kehidupan sebenarnya adalah kehidupan akhirat."

Dalam rangka mengarahkan hati kepada Allah; bukan pada keinginan jiwa." (Tafsir Al Baqarah, III/23)

Hendaknya kita bisa menerapkan hal ini ketika melihat apapun yang sifatnya 'Wah' dan menyilaukan hati. Agar hati bisa ingat hakikat kehidupan sesungguhnya. Sebab semua yang terbetik itu hanya sementara dan kehidupan akhirat lebih kekal daripada dunia.

Agar kita hidup bahagia di dunia perlu kiranya memahami kunci kebahagiaan agar tidak terpedaya oleh dunia. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

والعجيب أن من طلب عيش الآخرة طاب له عيش الدنيا؛ ومن طلب عيش الدنيا ضاعت عليه الدنيا والآخرة

"Hebatnya, orang yang berupaya untuk kehidupan akhirat; akan menjadi nyaman kehidupannya di dunia. Sedang yang hanya mencari dunia; menjadi sempit dunia dan akhiratnya (sekaligus)." (Tafsir Al Baqarah, III/23).

Sikap yang benar terhadap dunia adalah menjadikan dunia tersebut sebagai jalan untuk menggapai ridho ilahi, bukan menjadikan dunia itu sebagai tujuan utama yang ingin kita raih.

Begitu pula dengan harta, tahta, jabatan, kedudukan yang kita miliki, jangan sampai kita terlena dan silau olehnya hingga melupakan tujuan kehidupan yang sebenarnya. Dnia dicari bukan dengan sikap tamak, namun dengan sikap qona’ah, yaitu selalu merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan dan amanahkan kepada kita. Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan,

“Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.” (Syarh Ibni Batthol, 6: 48)

Asy-Syaikh Al 'Utsaimin rahimahullah menuturkan ini:

"Kalau seseorang cinta kepada harta karena ingin mengembangkannya, sehingga bisa digunakan untuk beramal shalih; maka yang demikian baik." (Fatawa Nuur 'alad Darb, kaset no. 330).

Perlu diketahui bahwa harta kesenangan di dunia hanya ada tiga, yaitu apa yang dimakan kemudian lenyap, apa yang dipakai hingga rusak, atau apa yang disedekahkan sehingga kekal lestari. Semoga Allah menjaga kita dari sifat tamak terhadap dunia. Aamiin.

Ditulis oleh akhukum fillah, Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bulusan kampung halamanku, Kota Semarang, Rabu malam kamis, 19 Jumadil Akhirah 1441 H.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf
Free for share