BEBERAPA MACAM PENYAKIT PAMER DI SOSMED


Banyak hal yang menyebabkan seseorang gagal meraih pahala. Di antara faktor penghalang yang paling banyak terjadi adalah karena pamer.

1.PAMER WAJAH.
Fenomena pamer ini juga menjangkiti orang yg mengaku 'alim, mereka tak ketinggalan ikut serta pamer wajah, kecuali bagi mereka yang dirahmati Allah.
Ketika punya foto bagus, rasanya gatal sekali ingin mengunggah foto tersebut ke media sosial biar orang lain tahu dan banyak yang ngelike.

2.PAMER HARTA.
Tujuannya tak lain agar orang lain segan dan takjub dengan kekayaan yang ia miliki. Mengakui atau tidak, ada rasa ingin dipuji oleh orang lain ketika anda memamerkan harta di medsos, betulkan?

Ketika mau memamerkan harta, kadang suka berpikir kenapa aku harus begitu, apakah aku tidak malu harus memamerkan sesuatu yang bukan milik kita hanya demi mendapatkan pujian dari manusia?. Terlihat di statusnya "lagi di bengkel servis motor/mobil kesayangan".

3.PAMER KEMESRAAN.
Jangan sampai sepasang suami istri suka memamerkan kemesraan di depan orang lain, terutama di medsos. Hal itu juga bisa memicu ke dalam perbuatan maksiat atau penyakit 'ain, atau foto anda bisa dimanipulasi. Kadang satusnya "masyaa allah istriku/suamiku bla bla bla", Lagi sama bebeb nich makan di resto di mall nich, lagi beli sepatu kembar kan, lagi makan ice cream, Suamiku adalah pahlawan, foto bareng bagus lan baju yg kita pakai, aplagi couple (kembar), yuk dilarisin, dll dengan disertai bahasa2 lebay ala akhwat jaman now yg terkontminasi fitnah.

4.PAMER PRESTASI.
Contoh "alhamdulillah akhirnya di terima di ....bla bla bla", Alhamdulillah Rangking pertama, Alhamdulillah IPK 3, 4 dll, Alhamdulillah selesai dari Studi Doktoral.

5.PAMER KEBAIKAN.
Pada zaman ini banyak yang suka melakukan kebaikan demi pencitraan, agar dianggap baik oleh orang lain. Tidak ada niat ikhlas dan tulus dalam hati mereka ketika melakukan kebaikan. Niatnya bukan semata-mata karena Allah, tapi karena inging mendapatkan penilaian baik dari orang lain.
Contoh "alhamdulillah sdh bisa bantu/ngasih.... bla bla bla"

6.PAMER REZEKI
Misalnya uang hasil jerih payah difoto, terus di upload foto tersebut ke medsos? “Alhamdulillah rezeki hari ini, semoga besok bertambah lagi!”, atau "Alhamdulillah sudah laku ......bla bla bla"

Ingat bahwa tabiat manusia adalah suka pamer, dipuji, bangga, berlebihan (ghuluw). Hendaknya paling tidak kita berlepas diri dari sifat suka pamer dan bermegah-megahan ini. Sifat suka pamer, sombong dan tidak tawadhu akan menumbuhkan kedengkian, persaingan dan bahkan kezhaliman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain” (HR. Muslim no. 2865).

Alangkah baiknya setiap amalan atau sesuatu yang kita miliki kita simpan tak perlu pamer hanya untuk memperoleh keuntungan dunia. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,

أخفى القوم أعمالا فأخفى الله تعالى لهم ما لا عين رأت ولا أذن سمعت

“Jika suatu kaum menyembunyikan amalannya, maka Allah akan menjanjikan pada mereka sesuatu yang mereka tidak pernah memandangnya dan tidak pernah mendengarnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Penerbit Dar Al-Fikr, 14: 67)

Jika kita memiliki wajah yg tampan, harta berlebih, amalan kebaikan, prestasi, banyak rezeki dan harta yang terlihat mentereng dan mahal, pasti ingin sekali dipamer-pamerkan. Selalu berbangga dengan harta dan perhiasan dunia, itulah jadi watak sebagian kita.

Semoga Allah memberikan taufik pada kita untuk merenungkan firman allah ta'ala berikut ini.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. (7) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (8).” ( At Takatsur: 1-8).

Dari Qotadah, dari Muthorrif, dari ayahnya, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat membaca ayat “أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ” (sungguh berbangga-bangga telah melalaikan kalian dari ketaatan), lantas beliau bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?”. (HR. Muslim no. 2958)

Semoga Allah, menjauhkan kita dari sifat sombong, membanggakan diri, pamer dalam hal harta dan dunia. Yaa Allah karuniakanlah pada kami sifat qona’ah, selalu merasa berkecukupan.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf –menjauhkan diri dari hal haram- dan sifat ghina –hidup berkecukupan-). (HR. Muslim no. 2721).

Ditulis oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bandungan, Kab. Semarang, Selasa malam Rabu, 25 Jumadil Akhirah 1441 H/ 18 Februari 2020.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf
Free for share.