BAHAYA NIKAH BEDA MANHAJ



Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah mewajibkan atas setiap muslim dan muslimah untuk untuk selektif dalam memilih teman duduk dan teman bergaul, hendaknya dia hanya memilih teman yang baik agar agamanya tetap terjaga. Hal ini pada teman duduk, maka tentunya dalam memilih teman hidup pun harus lebih selektif dan tentunya memilih yang betul-betul baik akidah dan manhajnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَرْكَنُوْا إِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

“Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka." (QS. Huud: 113)

Agar terbina suatu bahtera yang sakinah, mawaddah dan rahmah dibutuhkan keshalihan dari kedua pasangan terutama suami. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

“Jika datang kepada kalian seorang pelamar putri kalian yang kalian ridhoi akhlaknya dan agamanya maka nikahkanlah, jika kalian tidak melakukannya maka akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Ibni Majah: 1601)

Kriteria keshalihan yang diterangkan hadits diatas mencakup dua kriteria utama calon suami atau istri:

1. Baik agamanya.
2. Baik akhlaknya.

Janganlah kita hanya mengutamakan salah satunya dan mengabaikan yang lain.

Dan tidak mungkin agama dan akhlaknya baik tanpa mengikuti manhaj, metode beragama yang benar, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Maka hendaklah kita mencari pasangan hidup dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, beraqidah baik dan bermanhaj lurus. Bukan mencari dari golongan-golongan yang menyimpang, walau belum kafir.

Cucu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma pernah melamar seorang gadis, maka dikatakan kepada beliau bahwa wanita tersebut memiliki pemahaman khawarij, beliau pun membatalkan pernikahan tersebut dan berkata,

إني أكره أن أضم إلى صدري جمرة من جهنم

"Sungguh aku tidak suka mendekatkan ke dadaku potongan bara api neraka jahanam." (Ath-Tobaqoot Al-Kubro libni Sa'ad: 6926).

Beliau berkata seperti itu karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda tentang khawarij,

كِلاَبُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ، خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوه

“Mereka (kaum khawarij) adalah anjing-anjing neraka; seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit. Sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu’anhu, Al-Misykah: 3554)

Walau pernikahan ini hukum asalnya sah, namun dimakruhkan oleh para ulama Ahlu Sunnah, karena adanya kemudharatan yang timbul dari pernikahan tersebut baik untuk pihak laki-laki atau dari pihak wanita dan anak-anaknya dikemudian hari. Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah: menyatakan

مَنْ زَوَّجَ كَرِيْمَتَهُ مِن مُبْتَدِعٍ فَقَدْ قَطَعَ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang menikahkan anak perempuannya kepada seorang ahli bid’ah, maka sungguh ia telah memutus kekerabatannya” (Riwayat Al Barbahari dalam Syarhu Sunnah, hlm. 60).

Demikianlah para wali yang menikahkan anak perempuannya kepada ahli bid’ah telah mendatangkan kemudharatan bagi keluarganya, karena perkawinan dan pergaulan dengan ahli bid’ah tersebut memiliki pengaruh berbahaya bagi rumah tangga tersebut.

Para ulama Ahlu Sunnah (Salafiyyun) sangat memakruhkan pernikahan dengan wanita dan laki-laki ahli bid’ah, karena mudharat yang mungkin timbul dari pernikahan tersebut. Imam Malik bin Anas, imam madzhab Malikiyah menyatakan :

لاَ يُنْكَحُ أَهلُ البِدْعَةِ وَلاَ يُنْكَح إِلَيْهِمْ وَ لاَ يَسَلِّم عَلَيْهِمْ وَلاَ يَصَلِّى خَلْفَهُمْ وَلاَ تُشْهَد جَنَائِزُهُمْ

“Janganlah ahli bid’ah dinikahi dan janganlah menikahkan kepada mereka, jangan memberi salam dan shalat di belakangnya, serta jangan menyaksikan jenazahnya”.

Demikian juga Imam Ahmad menyatakan:

مَنْ لَمْ يَرْبَعْ بِعَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ فِيْ الْخِلاَفَةِ فَلاَ تُكَلِّمُوْهُ وَ لاَ تُنَاكِحُوْهُ

“Barangsiapa yang tidak menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, maka jangan ajak bicara dan jangan mengadakan pernikahan dengannya” (Mauqif Ahli Sunnah Min Ahli Al Hawa Wal Bid’ah, Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili, 1/380-388).

Ada sebuah kisah yg disebutkan oleh para ulama mengenai seseorang yang bernama Imran Al-Haththan. Orang ini dahulunya adalah salah seorang ulama ahlussunnah, tetapi dia menikah dengan putri pamannya (sepupunya) yang mempunyai pemikiran khawarij, dia berdalih menikahinya agar dia bisa menasehati jika dia sudah jadi istrinya. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, dia yang dinasehati oleh istrinya hingga akhirnya dia keluar dari ahlussunnah menuju ke mazhab khawarij, bahkan disebutkan bahwa dia lebih ekstrim daripada istrinya dalam mazhab khawarij ini.

Maka lihatlah bagaimana seorang alim bisa terpengaruh oleh wanita yang notabene adalah istrinya sendiri, maka bagaimana sangkaanmu dengan seorang wanita yang tidak alim lalu menikah dengan lelaki yang tidak benar akidah dan manhajnya, tentunya potensi untuk dia tersesat dan mengikuti suaminya lebih besar, wallahul musta’an.

Karenanya amalan seperti ini dijauhi, insya Allah masih banyak ikhwan/akhwat yang bagus akidah dan manhajnya, karenanya bersabar dan bertawakkallah kepada Allah.

Jodoh, adalah perkara ghaib karena dia termasuk dari takdir seseorang, dan tidak ada yang mengetahui apa takdirnya kecuali setelah terjadinya. Hanya saja mungkin dia bisa shalat istikharah guna menetapkan hatinya apakah calonnya bisa mendatangkan kebaikan bagi agama dan dunianya ataukah tidak, dia beristikharah kepada Allah dan bertawakkal kepadanya. Allahua'lam.

Ditulis oleh akhukum fillah, Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bulusan kampung halamanku, Kota Semarang, Sabtu siang, 21 Jumadil Akhirah 1441 H.
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah & Channel Dakwah Silsilah Manhaj Salaf
Free for share