AMALAN BAGAIKAN FATAMORGANA



Alangkah nikmatnya saat musim panen tiba, para petani memanen sayur, memanen buah-buahan, semua org bahagia dgn hasil tersebut. Begitu juga dgn kita memanen amalan yg telah kita tanam dan kita pupuk sbelumnya.

Namun jangan berharap memanen tanpa menanam dan memupuk, sia-sia saja jka anda berharap memanen namun tak menyemai benih, bagaikan punguk merindukan bulan, hanya angan2 kosong, bagai fatamorgana yg terpampang di tengah-tengah gurun pasir. Yahya bin Mu’adz ar-Razy rahimahullah berkata:

عمل كالسراب وقلب من التقوى خراب، وذنوب بعدد الرمل والتراب، ثم تطمع في الكواعب الأتراب؟
هيهات! أنت سكران بغير شراب، ‏‎ما أكملك لو بادرت أملك، ما أجلَّك لو بادرت أجلك، ما أقواك لو خالفت هواك

"Amal seperti fatamorgana, hati kosong dari taqwa, dosa-dosa sebanyak pasir dan debunya, lalu engkau ingin mendapatkan bidadari-bidadari yang menawan dan sebaya?! Alangkah jauhnya hal itu, karena engkau seperti orang yang mabuk tanpa minum khamr. Alangkah bagusnya jika engkau segera beramal untuk menyusul angan-anganmu, alangkah mulianya jika engkau bersegera beramal sebelum tiba ajalmu, dan alangkah kuatnya jika engkau menyelisihi hawa nafsumu." (Shifatus Shafwah, jilid 4 hlm. 337).

Agar amalan tak menjadi fatamorgana hendaknya amalan tersebut dilandasi dengan ilmu, sebab amal tanpa ilmu bagai pohon tanpa buah, tak ada faedahnya sama sekali. Maka kita dapati kebanyakan manusia beramal tanpa ilmu, hanya menerka-nerka saja tanpa dasar yg kuat, amalan hanya yang penting dianggap baik, yang penting kumpul baik semua, tanpa dilandasi oleh ilmu. Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, saat menjelaskan hadits,

‎من يرد الله به خيرا يفقه في الدين

“Siapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya, maka akan Allah pahamkan tentang agama.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Beliau mengatakan,

‎وهذا اذا أريد بالفقه العلم المستلزم للعمل وأما ان أريد به مجرد العلم فلا يدل على أن من فقه في الدين فقد أريد به خيرا

“Keutamaan ini hanya dapat diraih dengan mempelajari ilmu yang kemudian akan membuahkan amal. Adapun jika belajar ilmu tujuannya sebatas mengilmui/wawasan (tidak diamalkan), maka yang seperti itu tidak menunjukkan orang yang mempelajari agama, berarti tidak diinginkan kebaikan padanya.” (Miftah Dar As-Sa’adah 1/65).

Kita pun tak akan mungkin dapat membuat seluruh manusia ridho kapanpun dimanapun, cobaan pasti akan datang entah itu kenikmatan atau pun sengsara. Cara yg terbaik agar amalanmu berfaedah adalah perbaiki hubunganmu dgn Allah ta'ala. Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'iy rahimahullah berkata:

إنَّك لا تقدر أن ترضي الناس كلهم، فأصلح ما بينك وبين الله، ثم لا تبال بالناس

"Sesungguhnya engkau tidak akan mampu untuk membuat ridha manusia semuanya, maka perbaikilah hubunganmu dengan Allah, kemudian jangan pedulikan manusia!" (Tawalit Ta'sis, hlm. 136)

Selain tak mungkin panen dengan tanpa adanya menanam cobaan pun silih berganti, adakalanya kbaikan trcampur dgn kejelekan dalam situasi ini kesabaran pun diuji, senjata paling tepat utk menangkalnya adalah zuhudlah di dunia. Suatu ketika Umar Ibnul Khattab radhiyallahu 'anhu menulis surat untuk Abu Musa radhiyallahu;

كتب عمر ابن الخطاب رضي الله عنه اليي ابي موس رضي الله عنه: انك لم تنل عمل الآخرة بشيء افضل من الزهد في الدنيا، واياك ومذاق الأخلاق ودناءتها.( الزهد للامام احمد 152)

"Sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh amalan akhirat dengan sesuatu yang lebih utama daripada zuhud di dunia , hati-hati (tinggalkan olehmu) akhlak yang baik tercampur dengan akhlak yang jelek. (Az Zuhud karya Al-Imam Ahmad. Hal :152).

Terus berjuang dan berusaha adalah senjata terampuh sbagai kunci sukses khidupan yg smkin tak menentu, takutklah mnjdi hamba dunia. Al-Hasan al-Bashry rahimahullah mengatakan seraya bersumpah:

ما أعز أحد الدرهم إلا أذله الله عز وجل

"Tidaklah seseorang memuliakan dirham (harta) kecuali Allah Azza wa Jalla pasti menghinakannya." (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd, no. 1556).

Amalan pun bisa berpahala tanpa niat. Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Jika seseorang melakukan perbuatan yang MUBAH dan dia tidak meniatkannya untuk ibadah, maka tidak ada pahala padanya.

KECUALI bila ada manfaatnya bagi makhluk lain, misalnya: ketika seseorang memberikan nafkah kepada orang yang wajib dinafakahinya, maka mungkin saja dia tidak menghadirkan niat TAPI dia mendapatkan pahala.

Begitu pula jika seseorang menanam biji, atau menanam pohon, lalu sebagiannya dimakan oleh burung atau hewan melata, atau orang, maka sungguh dicatat baginya pahala kebaikan.” (Liqo’ bab maftuh 5/53).

Berlindung lah dari dosa-dosa, berhati-hatilah jka sampai dosa menipumu saat engkau menjadi hamba dunia. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

من أعظم الفقه أن يخاف الرجل أن تخدعه ذنوبه عند الموت، فتحول بينه وبين الخاتمة الحسنى

"Termasuk fiqih (pemahaman) terbesar adalah seseorang takut jangan sampai dosa-dosanya menipunya (tidak membuatnya sadar) ketika kematian datang, lalu dosa-dosa itu menghalanginya dari husnul khatimah." (Al-Jawabul Kafy, hlm. 171)

Berjuanglah hingga titik darah penghabisan saat-saat tenagamu habis hingga dtang kpadmu yg diyakini

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Dan beribadahlah engkau kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (yakni kematian).” (QS. Al-Hijr: 99).

Marilah kita bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan sisa umur kita di dunia ini dengan berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allah dan menjauhi setiap dosa dan maksiat hingga kematian menjemput kita dan memisahkan kita dengan orang-orang yg sangat kita cintai.

Ds. Duren, Bandungan, Kab. Semarang, Kamis malam jum'at, 13 Jumadil Akhirah 1441 H.
Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Saryanto Abu Ruwaifi' As-Sulaimi
Dari berbagai sumber
Diterbitkan oleh: Grup Dakwah Silsilah Manhaj Salaf.