REZEKI TIDAK AKAN PERNAH TERTUKAR


Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Saudaraku rezeki tidak akan lari dari seseorang, bahkan dia akan datang sebagaimana kematian mendatanginya. Rezeki adalah rahasia ilahi tak perlu khawatir bila tak akan dibagi, sebab jatah masing-masing pasti akan dibagi. Allah pasti membagi rezeki dengan adil.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30)

Tundukkan wajahmu daripada gemerlapnya dunia, niscaya dunia akan datang kepada mu. Begitu pula dengan rezekimu, jika kau hadapkan wajah mu kepada dunia, maka dunia itu akan lari menjauh dari mu, tidaklah engkau dapatkan dunia kecuali sedikit dari yang paling sedikit. Dunia hanya akan mencukupi hawa nafsumu bukan akhiratmu, jadikanlah dunia sebagai kendaraan tuk meraih akhirat. Bila dunia lekas pergi ikatlah dengan tali kekang yg kuat tuk mencari akhirat.

Jadikanlah dunia tunduk kepadamu, jadilah engkau seperti para salafush shalih (generasi terdahulu yg shalih), dunia dalam genggaman mereka tapi sedikitpun tidak mempengaruhi (masuk) dalam hati mereka. Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لو أن ابن آدم هرب من رزفه كما يهرب من الموت فأدركه رزقه كما أدركه موته

"Seandainya Bani Adam lari dari rezekinya sebagaimana dia lari dari kematiannya, niscaya rezekinya akan mendatanginya sebagaimana kematian pasti akan mendatanginya")
(Shohihul jami': 5240)

Terkadang kita selalu gundah bahkan berprasangka buruk seraya berkata mengapa rezekiku cuma segini? Yah bayarannya cuma segini mana cukup buat makan, atau hanya berleha-leha saja. Inilah sebetulnya penghalang rezeki sikap suka menggerutu, prasangka buruk, suuzhon, grundel, yang menghalangi kita untuk bersandar dengan bertaqwa dan bertawakkal kepada Alloh dalam urusan rezeki kita. Bukankah Alloh berfirman:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث ﻻ يحتسب. ومن يتوكل على الله فهو حسبه

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikan rezeki dari arah yang dia tidak menyangkanya.
Dan barangsiapa bertawakkal kepada Alloh maka Alloh akan mencukupkan keperluannya." (At-Talaq:2-3).

Ada kisah menarik terkait tawakkal dalam rezeki; yaitu kisah antara Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi yang disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Târîkh Madînati Dimasyq (23/135). Berikut ini adalah kisahnya:

Dari Khalaf bin Tamim, ia berkata, “Ibrahim bin Adham dan Syaqiq bertemu di Mekah. Ibrahim kemudian bertanya kepada Syaqiq, “Apa yang membuatmu hidup sangat bersahaja seperti ini?”
Syaqiq menjawab, “Suatu ketika, aku pernah berjalan melewati beberapa gurun yang tandus. Lalu aku melihat seekor burung yang patah dua sayapnya di sebuah gurun. Aku pun berkata dalam hati, ‘Aku ingin melihat bagaimana burung ini mendapatkan makanan.’ Aku duduk persis di hadapan burung tersebut.

Tiba-tiba ada seekor burung lain yang datang dan diparuhnya ada belalang, lalu ia meletakkan belalang tadi di paruh burung yang kedua sayapnya patah. Aku berkata dalam hati, ‘Wahai diriku, Dzat yang menuntun burung yang sehat ini membawakan makanan untuk burung yang patah kedua sayapnya itu tentu juga kuasa untuk memberikan rizki kepadaku, di manapun aku berada.’ Setelah kejadian itu, aku meninggalkan kerja, dan hanya berkonsentrasi dalam ibadah.”

Mendengar cerita Syaqiq, Ibrahim bin Adham pun berkata, “Wahai Syaqiq, kenapa engkau tidak ingin mengambil peran seperti burung yang sehat itu, dimana ia memberi makan burung yang sakit sehingga ia lebih utama? Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi saw, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan di antara salah satu ciri orang mukmin adalah senantiasa mencari tingkatan yang paling tinggi dalam segala hal, hingga mencapai derajat orang-orang yang dekat dengan Allah.”

Setelah mendengar jawaban Ibrahim, Syaqiq pun menjabat tangan Ibrahim dan menciumnya, seraya berkata, “Anta ustâdzuna yâ Abâ Ishâq…, engkaulah guru kami yang sesungguhnya wahai Abu Ishaq.”

Kesimpulannya adalah penting bagi kita untuk tetap berikhtiar menjemput rezeki, namun apabila rezeki seperti yang kita harapkan dalam hati dan pikiran kita tidak tercapai, maka jangan berkecil hati dan berprasangka buruk pada Allah ta'ala. Yakinlah bahwa Allah Maha Adil, apa yang ditetapkan oleh Allah pastilah yang terbaik bagi hambanya, umat manusia. Rezeki adalah hak prerogatif (hak khusus) Allah, mau kepada siapa diberikan bukan urusan kita. Cukuplah kita bertawakal kepada Allah ta'ala sehingga keperluan kita akan dicukupkan. Allahua'lam.

Bandungan, Kab. Semarang, Kamis, 28 Jumadil Ula 1441 H/23Januari 2020 M.