NENEK MOYANG KAN YASINAN, TAHLILAN DAN MENDO'AKAN ORANG TUA


Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Diantara kewajiban yang akan mendatangkan surga adalah berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti kepada keduanya merupakan perintah setelah bertauhid. Allah ta'ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Sembahlah Allah semata dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua." (QS. An Nisaa' : 36)

Setiap anak wajib berbakti dan mendoakan kebaikan bagi orang tua mereka. Dalam ayat yang lain Allah ta'ala berfirman,

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan rendahkan dirimu kepada mereka sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan dan katakan sebagai doa. Ya Allah rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mengasuh aku diwaktu kecil". (QS. Al Isra: 24).

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah `azza wa jalla memerintahkan kita untuk berbakti pada keduanya dengan berbuat baik kepada mereka. Allah menggandengkan perintah berbuat baik pada kedua orang tua dengan perintah bertauhid. Hal ini menandakan betapa pentingnya berbuat baik pada keduanya. Karena tauhid adalah pokok utama agama ini yang terpenting. Sesuatu yang digandengkan dengan perintah bertauhid tentu adalah sesuatu yang penting.

Kesimpulannya memuliakan orang tua adalah kewajiban. Mendoakan orang tua juga kewajiban anak. Berbakti kepada nenek moyang boleh dan keharusan, dengan syarat apa yang diajarkan nenek moyang itu tidak melanggar syari'at islam. Apabila nenek moyang menyelisihi syari'at maka tidak ada kata taat pada mereka. Apabila nenek moyang adapalah orang musyrik ahli maksiat, haruskah taat kepada mereka? Tentu tidak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya pada kebaikan saja” (HR. Muslim VI/421 nomor 4742, Al-Bukhari 7145 dan 7257, Abu Dawud nomor 2625)

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat maksiat kepad sang Khaliq (Allah)” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf VI/545 nomor 33717, Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf II/383 nomor 3788)

Kenyataannya selama ini kita dipaksa harus taat mengikuti adat-adat yang bukan ajaran islam, bahkan dari sejak lahir. Bahkan tak jarang dengan pemaksaan. Belum lahir pun sudah diajari kesyirikan dengan mitoni (tujuh hari). Setelah lahir pun kita dipaksa jadi agen mitoni, 40, nyatus, nyewu dan semisal. Dengan dalih yang penting dipandang baik masyarakat, ini adalah ajaran nenek moyang. Seolah dari sebelum lahir dan masa berikutnya kita dipaksa untuk berbuat kesyirikan dengan alasan nenek moyang, bagaimana tidak?

Saat lahir, bau syirik tetap ada, dengan acara ngubur ari-ari diberi penerangan lampu merah. Besar sedikit, kita diajari ulang tahun, niup lilin, niup trompet di malam tahun baru.

Saat masuk pernikahan, diperintahkan nginjak telur, jamasan, sungkeman, dll. Saat mau mati atau acara kematian dipaksa kita ikut acara Yasinta (yasin tahlil). Kirim arwah lewat bayaran dibaca keras dengan speaker di masjid-masjid. Kalau tidak Yasinta tidak NKRI, kalau tidak Yasinta Radikal, kalau tidak Yasinta bukan Islam.

Dan ternyata semua itu dipaksakan dan dipromosikan lewat lisan para kyai, lewat program-program tertentu, namun pada hakikatnya mereka mencela Islam dan menelanjangi syari'at Islam. Bagaimana tidak ? Semua serba Yasinta, Lahiran Yasinta, Hamil Yasinta, Beli Motor dan Mobil harus Yasinta, Pindah Rumah Yasinta, Bangun masjid Yasinta, Bangun rumah baru Yasinta, Pernikahan Yasinta, Mati pun Yasinta, seolah kita dikepung Yasinta dalam kehidupan dan itu wajib. Semuanya pakai kaidah Pukul Rata serba serbi Yasin Tahlil.

Sebenarnya kita ISLAM atau HINDU BUDHA ?

Kabeh kok YASINTA?

Dari kita lahir sampai mati, tidak terlihat islamnya? Bila ada orang yang tidak yasinan dan tahlilan, di katakan anak durhaka. Bila tidak ikut yasin tahlil masuk neraka, dosa besar, kafir dan aneka cap lainnya. Seakan bila tidak yasinan dan tahlilan berarti tidak mendoakan orang tua? Sungguh alasan yang tidak bisa diterima akal, suatu hipotesa yang salah kaprah.

Ibaratnya, seakan bila tidak makan nasi, meskipun sudah makan bubur satu panci, dikatakan belum makan. Harus makan nasi satu panci baru dikatakan makan. Aneh bukan ?

Bila ditanyakan dalilnya darimana? Landasannya apa? Jawabnya, dasar wahabi!!

Atau ini kan amalannya Pak Yai, Pak Yai kan orang shalih, walau dia tidak solat di masjid, merokok, pelaku Riba. Semua Kyai Kyai Kyai dan Kyai, alasannya yang penting Mbah Yai. Seolah kyai dalil naik derajatnya melebihi KITABULLAH.

Begitulah realita di masyarakat awam, jahil, bodoh taunya hanya duit, pikirannya sudah cupet. Semua yang penting baik Agama Islam itu ya NU kalau tidak NU ya tidak. Sing penting shalawatan kumpul konco, ikhtilat (campur baur) laki-laki wanita tidak papa sambil jogetan ngibing di mabuk shalawat ala dangdut mesra ihir.

Kenapa ya semua harus pakai kaidah pukul rata dgn YASINTA?

Sementara Fatwa Batsul Masail NU yang ditanda tangani Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari pendiri NU mengatakan, "selametan setelah kematian adalah bid'ah mungkar, dan orang yang mengingkarinya mendapat pahala." (fatwa tertanggal 13 Rabiul Akhir 1345 h/21 Oktober 1926).

Inilah fatwa yang jelas, bikin melek mata, bikin melotot mata, lebih mencocoki Madzhab Syafi'i, bahwa pahala bacaan Al-Qur'an tidak sampai pada mayit. Kok malah tidak taat sama pendirinya? Padahal foto-foto pendirinya banyak digambar di gedung-gedung dan kantor-kantor mereka.

Bila Pendiri NU dan Ulama NU saja melarang yasinan, tahlilan, dan selametan. Lalu yang diikuti orang hari ini, panutannya siapa?

Yang lebih tragis lagi acara Yasinta (Yasin Tahlil) ini ternyata terasa berat bagi sebagian kaum muslimin yang rendah tingkat ekonominya. Mereka harus rela utang ke bank atau rentenir demi bisa mendo'akan keluarganya, takut disindir tetangga dan kyai.

Padahal seharusnya keluarga yang ditinggal mati dibantu, ternyata kenyataannya malah dibebani dengan acara yang berkepanjangan…biaya terus dikeluarkan untuk tahlilan…hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, hari ke-1000…

Lihatlah tatkala datang kabar tentang meninggalnya Ja’far radhiallahu ‘anhu maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

اِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukan mereka” (HR Abu Dawud no 3132

Al-Imam Asy-Syafi’I rahimahullah berkata :

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : Para sahabat kami (para ahli fikih madzhab syafi’i) rahimahullah berkata, “Jika seandainya para wanita melakukan niahah (meratapi sang mayat di rumah keluarga mayat-pen) maka tidak boleh membuatkan makanan bagi mereka. Karena hal ini merupakan bentuk membantu mereka dalam bermaksiat.

Penulis kitab as-Syaamil dan yang lainnya berkata : “Adapun keluarga mayat membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan makanan tersebut maka tidak dinukilkan sama sekali dalilnya, dan hal ini merupakan bid’ah, tidak mustahab (tidak disunnahkan/tidak dianjurkan)”.

Ini adalah perkataan penulis asy-Syaamil. Dan argumen untuk pendapat ini adalah hadits Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/290

Kadang kita jumpai perkataan-perkataan kyai-kyai NU yg dianggap khatismatik oleh kaumnya, "Kuwi kan mung ning kuburan ndongakke wong tuwamu dewe, moco Qur'an ono pahalane", Itu kan baik cuma ke kuburan mendoakan otangtua membaca Qur'an dapat pahala.
Ada juga "elekke ndok endi"?. Jeleknya nginjak telurana?, Kata KH. Anwar Zahid dari Bojonegoro. Menurut mereka telur utk sedekah, tapi kita katakan, jeleknya karena menyelisihi ajaran Nabi shalallahu 'alaihi wa salam.

Contoh sederhana begini bisakah dikatakan, bila natal, diisi acara sedekahan, baca Qur'an lalu di katakan natal itu ajaran islam? Sesuai syari'at Islam?

Itulah sedikit cerita tentang fakta di masyarakat kita yang masih awam plus abangan, tahunya Islam hanya kulit luarnya saja, yang penting Al Fatihah, namun tidak tahu isi dalamnya (kandungan) perintah dan larangan seperti apa.

Dan nyelenehnya pemikiran-pemikiran para kyai yang memakai mantiq sebagai rujukan sehingga melawan nash yang qath'i (kuat) dengan qiyas-qiyas yang bathil dan nyeleneh, yang penting baik dan dianggap baik.

Semoga tulisan kecil ini, bisa menjadi nasehat kita semua. Yang masih keras mengikuti tradisi-tradisi yang bukan datang dari islam. Kita semua hamba Allah, umur singkat, kenapa masih kekeh dengan ajaran nenek moyang. Dan semoga disaat-saat kritis, kita tetap bisa berpegang dengan agama islam dan ajarannya.

Inilah sedikit dari tulisan ini, semoga jadi penggugah dan nasehat bagi kita semua untuk selalu berpikir rasional dan ipmiyah dalam menyikapi segala sesuatu buka yg penting manut (patuh) dan ikut-ikutan orang saja. Maaf jika panjang. Allahua'lam.

Bulusan, Tembalang, Kota Semarang, Jum'at berkah, 29 Jumadil Ula 1441 H/24 Januari 2020 M.