Lebih baik Menjadi Ekor dalam Kebenaran daripada Menjadi Bos dalam Kebatilan



Seorang mukmin akan senantiasa kokoh diatas kebenaran, dia tidak akan takut aral rintangan yang menerpanya. Dia berupaya untuk tetap kokoh walau badai kencang menggoyahkan. Kebenaran adalah suatu jalan hidup yang harus ditempuh oleh seorang mukmin. Seorang hamba memiliki tujuan mulia, yaitu mengagungkan kebenaran, tanpa memedulikan bahwa dirinya berada di depan atau di belakang, bahwa ia dimuliakan atau dihinakan.

Tugas seorang mukmin hanyalah menyampaikan kebenaran dengan sebaik-baik cara dan mengikuti konsekuensi kebenaran. Sehingga, jika ia pun ditinggalkan oleh semua manusia karena teguhnya ia mengikuti kebenaran, hal itu tidaklah membuatnya berkecil hati. Sebab kebenaran akan asing, pun manusia akan menilainya asing. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah).

Ma'mar bin Rasyid Al-Azdy rahimahullah berkata,

قُلْتُ لِحَمَادٍ : كُنْتَ رَأْسًا وَكُنْتَ إِمَامًا فِيْ أَصْحَابِكَ، فَخَالَفْتَهُمْ فَصِرْتَ تَابِعًا، قَالَ: إِنِّيْ أَنْ أَكُوْنَ تَابِعًا فِي الْحَقِّ خَيْرٌ مِنْ أَنْ أَكُوْنَ رَأْسًا فِي الْبَاطِلِ

"Saya berkata kepada Hammad, 'Dahulu engkau adalah kepala dan pemimpin di kalangan sahabat-sahabatmu. Namun, kemudian engkau menyalahi mereka. (Apa) karena itu engkau pun menjadi pengikut?'
Hammad menjawab, 'Sungguh Saya menjadi pengikut dalam kebenaran adalah lebih baik dibandingkan Saya menjadi pemimpin dalam kebatilan.'."
[HR. Ali bin Al-Ja'ad dalam Al-Musnad no. 357]

Patokan kebenaran pada hakikatnya bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah ia bersesuaian dengan Al Qur'an dan Sunnah. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan Al Qur'an dan Sunnah, maka itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebathilan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103).

Apalah gunanya seorang manusia yang diikuti oleh sejuta fans dan pengikut jika menyelisihi kebenaran. Dirinya mulia di mata manusia, tetapi hina di sisi para pencinta kebenaran, bahkan di sisi Allah 'Azza wa Jalla. Allah ta'ala mengingatkan,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116)

Lalu bagaimana ciri-ciri pengikut kebenaran sejati ?, Pengikut kebenaran sejati adalah apa yang dikabarkan oleh Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :

Ciri-ciri ahlul haq (pengikut kebenaran) ialah:

Tidak terkenal dengan nama tertentu di tengah-tengah manusia, yang nama tersebut menjadi simbol golongan tersebut.

Mereka tidak mengikat dirinya dengan satu amalan, sehingga dijuluki karena amalan tersebut, dan dikenal dengan amalan tersebut tanpa dikenal dengan amal lainnya. Ini merupakan penyakit dalam beribadah, yaitu ibadah yang terikat (ubudiyyah muqayyadah). Adapun ibadah yang mutlak (ubudiyyah muthlaqah) akan menjadikan pelakunya tidak dikenal dengan nama tertentu dari jenis-jenis ibadah yang dilakukannya. Ia akan memenuhi setiap panggilan ibadah apa pun bentuknya. Dia memiliki ‘saham’ bersama setiap kalangan ahli ibadah. Dia tidak terikat dengan model, isyarat, nama, pakaian, maupun cara-cara buatan.

Jika ditanya: “Siapa ustadzmu?” jawabnya: “Rasulullah”.

Jika ditanya: “Apa jalanmu?” jawabnya: “ittiba’ ”.

Jika ditanya: “Apa pakaianmu?” jawabnya: “ketakwaan”.

Jika ditanya: “Apa maksudmu?” jawabnya: “Mencari ridha Allah”.

Jika ditanya: “Di mana markasmu?” jawabnya:

﴿ فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَ

يْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾(النور:36_37)

Di mesjid-mesjid yang Allah perintahkan agar dibangun dan dimuliakan, serta banyak disebut nama-Nya di sana lewat tasbih dan shalat di pagi maupun petang hari. Merekalah lelaki sejati yang tidak tersibukkan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut terhadap hari Kiamat yang kedahsyatannya dapat memutar balikkan hati dan penglihatan (An Nur: 36-37).

Jika ditanya: “Keturunan siapa kamu?”, jawabnya: “Keturunan Islam”.

Jika ditanya: “Apa makanan dan minumanmu?” jawabnya (sambil menyitir hadits Nabi tentang unta temuan):

ما لك ولها ؟! معها حذاؤها وسقاؤها،ترد الماء وترعى الشجر حتى تلقى ربها.

“Apa urusanmu dengannya? Dia punya alas kaki dan tempat minum pribadi… dia bisa mencari makan dan minum sendiri, sampai bertemu dengan pemiliknya kembali” (Madarijus Salikin, 3: 174).

Marilah kita berusaha untuk menjadi pengikut kebenaran sejati, dengan mencontoh dan meneladani generasi yang mulia dari umat ini, maka insyaallah kita akan selamat di dunia dan akhirat. Allahua'lam.

Oleh: *Abu Ruwaifi' Ziyad As Sulaimi (Saryanto) hafizahullah*

Teras Masjid Raya Darul Amal Salatiga, Jum'at, 20 Muharram 1440 H.
----------------------
:loudspeaker: *Published By:*
:iphone: *Group Silsilah Manhaj Salaf Muslim & Muslimah.*
:globe_with_meridians: Official Website: https://www.silsilahmanhajsalaf.com/?m=1
:video_camera: Youtube Channel: https://bit.ly/2k08nzN
:postbox: *Telegram:* https://t.me/silsilahmanhajsalaf
:iphone:*Facebook Fanspage:* http://bit.ly/2TGbiJw
:calling: *Instagram:* instagram.com/silsilah_manhaj_salaf/
:globe_with_meridians: *Twitter:* https://twitter.com/silsilahmanhaj
:calling: *Join grup WA:* 085326461707
:loud_sound: *#Free for share*