Hakekat Meneladani Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam

:revolving_hearts::white_check_mark:

:revolving_hearts:Seorang muslim pada dasarnya penting untuk meneladani dan mencintai Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah Rasul (utusan) Allah. Dalam banyak ayat Al-Qur-an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentaati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya…”
[An-Nisaa’/4: 59]

:revolving_hearts:Cinta dan kteladanan kepada Rasulullah itu butuh kepada bukti yang dapat dijadikan standar kebenaran pengakuan cinta. Sebab, bila pengakuan tidak diwujudkan dengan bukti, maka apa artinya sebuah pengakuan?

:revolving_hearts:Karena tidak semua pengakuan cinta dianggap benar, kecuali jika diwujudkan dengan bukti dalam kehidupan sehari-harinya. Allah mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi segenap ummatnya. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Nama Allah.”
[Al-Ahzaab/33: 21]

:closed_book:Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya. Untuk itu, Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya Azza wa Jalla ketika perang Ahzaab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada beliau hingga hari Kiamat.” [Tafsiir Ibni Katsir; III/522-523]

:open_file_folder:Bukti dan tanda-tanda kecintaan dan keteladanan tersebut menunjukkan hakikat iman yang hakiki. Semakin banyak memiliki bukti dan tanda tersebut, maka semakin tinggi dan sempurna kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

:white_check_mark:Diantara bukti Mencontoh, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berjalan di atas manhaj beliau, berpegang teguh serta meneladani beliau dalam tutur kata maupun perbuatan Beliau, hal ini merupakan awal tanda cinta Rasul. Seseorang yang benar mencintai Rasulullah ialah orang yang mengikuti Rasulullah secara lahiriyah dan batiniyah, selalu menyesuaikan perkataan dan perbuatannya dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia tidak menentang syariat yang dibawa oleh Rasulullah, sebab syariat yang diabawa oleh beliau shalallahu 'alaihi wa sallam tidak ada yang kontradiksi, hanya akal manusia saja yang sering kontradiksi dengan syariat.

:white_check_mark:Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita mengikutinya dalam melakukan berbagai ibadah dan hendaknya ibadah itu dilakukan sesuai dengan cara yang beliau contohkan. Beliau pun melarang membuat- buat syari'at baru dalam Agama Islam, dan diantara orang- orang yang tidak akan menghampiri telaga beliau adalah orang- orang yang membuat- buat syari'at baru.

:scroll:Perintah untuk meneladani (ittiba') kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak tertuang dalam beberapa riwayat hadits, misalnya perintah untuk mencontoh tata cara shalat beliau,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي.

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”[HR. Al-Bukhari no. 631]

:scroll:Juga Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencontoh manasik haji yang sesuai sunnahnya,

خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُم.

“Ambillah dariku manasik (haji)mu.” [HR. Muslim (no. 1297) dan lainnya]

:scroll:Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang perkara- perkara baru dalam agama yang diada-adakan atau sengaja dibuat-buat agar seolah-olah terkesan berasal dari syari'at,

مَن عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَ


“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah kami, maka amalan itu tertolak.” [HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1719 (18)]

:scroll:Dan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya kita lebih condong untuk menghidupkan sunnah-sunnah beliau, beliau pun membenci orang-orang yang tidak menghidupakan sunah-sunnahnya,

مَن رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.يهِ أَمرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”
[HR. Al-Bukhari (no. 5063) dan Muslim (no. 1401).

:white_check_mark:Dalam Al-Qur-an, Allah ta'ala telah menyebutkan ketaatan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladaninya sebanyak 40 kali. Sehingga kecintaan kepada Rasulullah adalah pembuktian dengan meneladani (ittiba') beliau shalallahu 'alaihi wa sallam dengan berupaya menghidupkan sunnah-sunnahnya. Allah ta'ala berfirman,

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa- dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.” (QS. Ali Imran: 31)

🏷Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat.” (Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770).

:pushpin:Demikianlah, kecintaan kepada Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan ittiba' kepada sunnahnya, karena jiwa manusia lebih membutuhkan untuk mengetahui apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa dan mengikutinya daripada kebutuhan kepada makanan dan minuman, sebab jika seorang tidak mendapatkan makanan dan minuman, ia hanya berakibat mati di dunia sementara jika tidak mentaati dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan mendapat siksa dan kesengsaraan yang abadi. Allahua'lam bishawab.

✍🏻Ditulis oleh: *Abu Ruwaifi' Saryanto hafizahullah*

:house_with_garden:Bandungan, Kab. Semarang, Ahad malam, 9 Muharram 1441 H.
-----------------
:loudspeaker: *Published By:*
:iphone: *Group Silsilah Manhaj Salaf Muslim & Muslimah.*
:globe_with_meridians: Official Website: https://www.silsilahmanhajsalaf.com/?m=1
:video_camera: Youtube Channel: https://bit.ly/2k08nzN
:postbox: *Telegram:* https://t.me/silsilahmanhajsalaf
:iphone:*Facebook Fanspage:* http://bit.ly/2TGbiJw
:calling: *Instagram:* instagram.com/silsilah_manhaj_salaf/
:globe_with_meridians: *Twitter:* https://twitter.com/silsilahmanhaj
:calling: *Join grup WA:* 085326461707
:loud_sound: *#Free for share*