Sampai Kapan Mau Taubat


Nanti Saja Taubatnya, Kan Masih Muda...

Tak heran alangkah mudahnya terperdaya oleh usia...
Tak masalah mumpung masih muda waktu bersenang-senang ntar kalau udah tua waktunya taubat. Na'udzu billahi min dzalik.

Di sisi lain sebagian orang dengan gampangnya beranggapan,

“Hidupku sudah bergelimang dosa dan maksiat, lebih baik aku jalani saja apa adanya, “

Yang lain "Enggak apa-apa Sekarang bermaksiat, nanti kalau tua kan bisa taubat"

Taukah mereka bahwa perkaranya tidaklah semudah itu? Bukankah asal mula taubat itu datangnya dari Allah?

Tak sedikit orang-orang yang sudah berusia lanjut bergaya bak anak muda. Umur sudah mendekati ajal, namun gaya tak ketulungan. Meski sudah keriput, maksiat tetap tak surut. Rambut dikuncir, telinga pakai anting, dan semua tangannya pakai tato. Tua-tua keladi, ujar pepatah. Makin tua makin menjadi-jadi. Bukan insyaf tapi malah terus bermaksiat.

Sebaliknya, jika yang tua makin menjadi-jadi, yang muda justru tak memiliki hati. Mereka tahu apa yang dilakukan itu kurang baik dan merugikan, tetap saja menutup mata dan hatinya hanya untuk terus memperkokoh dahaga nafsunya. “Muda Foya-foya, Tua Kaya-raya, Mati masuk Surga, “. Slogan ini awalnya hanya gurauan yang ditempel di stiker-stiker bahkan digunakan jadi T-Sirt. Namun, sesungguhnya saat ini banyak dijadikan modal dan spirit kaum muda.

Bagaimana jika ternyata Allah sudah murka karena kemaksiatan yang dia anggap remeh dan berulang ulang dia lakukan itu? Apakah ia mengira ketika Allah telah murka kepadanya, Allah Akan membukakan hatinya untuk bertaubat?

Yang banyak terjadi, keinginan untuk taubat itu malah hilang seiring dengan bertambahnya usia

Itupun jika bisa sampai usia tua, bukankah tak sedikit orang orang yang mati muda belum sempat bertaubat?

Tentunya banyak sekali orang mengaku sulit untuk melakukan kebaikan. Karenanya ia merasa akan terus berbuat keburukan dan bermaksiat. “Ya, saya sudah tahu ini keliru, tapi masih belum siap melakukannya, “ bagitu jawabnya.

Padahal, memulai kebaikan tidak perlu menunggu waktu dan tidak perlu menunggu orang banyak. Cukup mulailah dari hati dan niatkan. Jika masih malu dilihat orang, bersembunyilah untuk melakukan kebaikan sampai suatu saat siap waktunya. Sebab, tanpa memulai rasanya mustahil. Seharusnya, para pelaku kebaikan memegang prinstip, “Kalau bisa dimulai saat ini, kenapa harus menunggu sampai nanti?. Sebab, belum tentu esok hari umur kita masih ada.”

Bertaubatlah

Kini, mumpung masih ada waktu, marilah di setiap kita bertanya pada diri sendiri. Akan ke mana setelah ini? Dan apa amal kita yang akan kita bawa nanti saat menghadap kepada Allah SWT?

Islam tak pernah menganggap taubat sebagai langkah terlambat. Kapanpun kesadaran itu muncul, Allah tetap menerimanya, selama nafas masih menempel di badan. Hisab (perhitungan) akan amal-amal buruk kita di mata Allah akan segera terhapus dengan taubat kita yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha).

Kata Nabi, “Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubat dan memaafkannya.” (H.R. Muslim)

Hanya saja dalam Islam, menyangkut taubat ada kaidah dan adab-adabnya. Secara terminologis, taubat mencakup tiga syarat: Pertama, meninggalkan perbuatan dosa. Kedua, menyesali perbuatan yang telah dilakukannya. Ketiga, bertekad tidak akan melakukannya kembali.

Percayalah tidak ada kata terlambat untuk taubat, jika seseorang telah melakukan kemaksiatan seluas lautan, maka ampunan Allah melebih luas langit dan bumi.

“Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan Surga yang luasnya seluas langit danbumi, disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran:133)

Maka masihkah ingin menunda taubat?

Akhukum Fillah Saryanto Abu Ruwaifi' Hafidzahullahu

Catatan Orang Pinggiran

Bandungan, Kab. Semarang, Kamis malam, 19 September 2018 M, 22.40 WIB.