Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil


Kaidah atau prinsip ini tentunya digunakan dalam memahami aqidah yang benar, agar kita sebagai seorang muslim memahami bagaimana beramal dan beribadah yang benar sesuai dengan tuntunan yang benar, terutama dalam beramal mencocoki dalil. Diantara prinsip dam kaidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam memahami dalil adalah,

1. Sumber aqidah adalah Kitabullah (Al Qur'an), Sunnah Rasulullah shalallahu 'alaih wa sallam yang shahih, dan ijma' para salafush shalih.

Ijma' adalah ”Kesepakatan seluruh ulama mujtahid pada satu masa setelah zaman Rasulullah atas sebuah perkara dalam agama.” Dan ijma’ yang dapat dipertanggung jawabkan adalah yang terjadi di zaman sahabat, tabiin (setelah sahabat), dan tabi’ut tabiin (setelah tabiin). Karena setelah zaman mereka para ulama telah berpencar dan jumlahnya banyak, dan perselisihan semakin banyak, sehingga tak dapat dipastikan bahwa semua ulama telah bersepakat. Allah Ta’ala berfirman:

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Saksi di atas bersifat umum mencakup kesaksian akan apa yang diperbuat manusia, dan kesaksian akan hukum perbuatan mereka. Di akhirat kelak umat islam bersaksi bahwa manusia telah melakukan perbuatan begini dan begitu, dan juga bersaksi bahwa perbuatan tersebut salah ataupun benar.

2. Setiap Sunnah yang shahih dan berasal dari Rasulullah wajib diterima, walaupun sifatnya Ahad. Allah ta'ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."
(QS. Al Hasyr: 7)

Sifatnya ahad maksudnya, segala sesuatu yang berasalh dari rasulullah, yang dimaksud adalah hadits. Hadits disini adalah hadits ahad. Definisi ringkas mengenai hadits ahad sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Mahmud Thahhan dalam Taisir Musthalah Al Hadith, secara bahasa adalah,

Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja. Adapun secara istilah, ialah mencakup seluruh hadits yang tidak mencapai derajat  mutawatir. Oleh karena itu hadits ahad dalam definisi ini lebih luas dan mencakup kategori:

Hadits masyhur, hadits yang diriwayatkan oleh tiga perawi dalam tiap thabaqat (generasi perawi), atau lebih dari tiga selama tidak mencapai derajat bilangan perawi mutawatir.

Hadits aziz, hadits yaitu diriwayatkan oleh dua orang perawi dalam tiap thabaqat.

Hadits gharib, hadits yaitu diriwayatkan oleh satu orang perawi.

Sedangkan selain ahad ada juga mutawatir, hadits mutawatir adalah “apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan mereka terhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad”. Atau : “hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengarannya dan semacamnya”.

Semuanya harus diterima tanpa terkecuali, baik ahad maupun mitawatir.

3. Yang menjadu rujukan dalam memahami Al Qur'an dan Sunnah adalah nash-nash (teks-teks) yang benar berdasarkan pemahaman salafush shalih dan para imam yang mengikuti jejal mereka, serta dilihat dari arti yang benar dalam bahasa Arab. Jika sudah benar maka tidak boleh dipertentangkan dengan hawa nafus dan akal.

4. Prinsip-prinsip utama dalam bergama semua telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, maka siapapun tidak berhak dan tidak boleh mangadakan sesuatu yang baru atau yang bertentangan dalam agama. Sebab hal tersebut termasuk bid'ah dan bid'ah adalah kesesatan, berapa banyak orang-orang yang jahil terhadap agama membikin ibadah-ibadah aneh dan seolah mereka mengklaim itu adalah bagian dari agama. Kebanyakan orang-orang jahil tersebut bodoh dan tak berpikir ilmiah atau kritis. Allah ta'ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al Maidah: 3)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Oleh karena itu sebagai seorang mukmin kita harus beramal sesuai petunjuk, bukan berdasar pada hawa nafsu dan akal, seolah ibadah adalah permainan dan sendagurau, boleh ini boleh itu yang penting dianggap baik oleh masyarakat namun sejatinya tertolak. Ibadah itu bukan semaunya atau yang mencocoki kemauan, atau hanya menerka dan yang penting dianggap baik. Ibadah itu tauqifiyah (berlandaskan dalil yang turun dari langit). Ternyata sebagian masyarakat kita masih bodoh dalam perkara ini, terutama yang paling susah adalah masyarakat abangan. Allahua'lam.

5. Bahwa mereka berserah diri (taslim), patuh, dan taat hanya kepada Allah dan RasulNya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari Al Qur'an dan Sunnah yang shahih, baik menolaknya dengan qiyas (analogi berfikir), perasaan, kasyf (iluminasi/penyingkapan tabir sesuatu yg ghaib), ucapan seorang syaikh/ustadz/kyai, ataupun pendapat imam-imam lainnya.

Ahlu sunnah wal jama'ah tunduk kepada dalil, mereka tidak serta merta menyelewengkan dalil dengan akal dan hawa nafsu mereka. Namun sayang sekali pada zaman akhir ini begitu banhak sekali penyimpanan-penyimpangan, yang dimana setiap orang boleh untuk berinovasi dalam perkara ibadah, seolah ibadah adalah permainan dan sendagurau, mereka bikin dzikir-dzikir khusus, ziarah kubur khusus, kultus kepada wali, kuktus kepada kyai dan ulama, kyai naik detajatnya melawan dalil, shalawat-shalawat khusus, dan lainnya. Dan kebanyakan dari mereka adalah melampaui batas, padahal Allah ta'ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An Nisaa': 65).

Juga firman Alah ta'ala,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al Hasyr: 7).

Akal, perasaan, logika, hawa nafsu tidak boleh mendahului dalil dalam menetapkan suatu amalan dan hukum terhadap suatu perkara. Kalau seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih pantas diusap daripada bagian atasnya. Namun ternyata praktek Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang diusap adalah bagian atasnya. Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).”
(HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin  rahimahullah berkata, “Agama bukanlah dengan logika, atau akal. Agama bukan didasari pertama kali dengan logika. Bahkan sebenarnya dalil yang mantap dibangun di atas otak yang cemerlang. Jika tidak, maka perlu dipahami bahwa dalil shahih sama sekali tidak bertentangan dengan logika yang  smart  (cemerlang). Karena dalam Al Qur’an pun disebutkan,

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kalian mau menggunakan akal kalian.” (QS. Al Baqarah: 44).

Sesuatu yang menyelisihi tuntunan syari’at, itulah yang menyelisihi logika yang sehat. Makanya sampai ‘Ali mengatakan, seandainya agama dibangun di atas logika, maka tentu bagian bawah sepatu lebih pantas diusap. Namun agama tidak dibangun di atas logika-logikaan. Oleh karenanya, siapa saja yang membangun agamanya di atas logika piciknya pasti akan membuat kerusakan daripada mendatangkan kebaikan. Mereka belum tahu bahwa akhirnya hanya kerusakan yang timbul.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 1: 370).

Kemudian dalil 'aqli (akal) akan sesuai dengan dalil naqli (nash yang shahih). Sesuatu yanh qath'i (pasti) dari keduanya tidak akan saling bertentangan, apanbila terdapat pertentangan antara keduanya, maka dalil naqli (ayat Al Qur'an dan hadits) yang harus didahulukan.

Orang-orang yang mereka mengedapankan akal dan logika berpikir dalam permasalahan agama akan terjebak dalam bingkai taklid, sehingga pola pikir mereka adalah qiyas (analogi), atau ini baik ini buruk sesuai kehendak hawa nafsu mereka, terlebih mereka yang hidup di pedesaan dan hidup hanya dalam naungan kajian tarekat. Mereka tunduk terhadap perkataan-perkataan kyai mereka, sehingga mereka terhalangi dari kebenaran.

Padahal Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal dan cara berpikir smart (cemerlang/cerdas) dalam diri manusia yang berupa fithrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: ‘Tidak! Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikutinya juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” [Al-Baqarah: 170]

Orang-orang yang taklid terhadap tarekat dan kyai mereka akan berkata, "Loh saya dapat ilmunya atau belajarnya dari nenek moyang atau mbah saya seperti ini, ya seperti ini yang saya amalkan". Mereka terhenti oleh cara berpikir yang konyol dan tidak logis, oleh karena itu kita dapati kebanyakan mereka adalah orang-orang bodoh dalam beragama terlebih apabila mereka merasa telah ditokohkan, dari kalangan mereka ada istilah, kyai tahlil, kyai donga (kyai khusus do'a), kyai kematian, kyai nikah, dsb. Apalagi bila mereka sudah tua unsut taklid akan semakin kental, mereka tidak mau belajar lagi, begitulah realita masyarakat tarekat abangan.

Maka kita dapati sebagian dari mereka bukanlah golongan yang ittiba' (ikut rasul) namun mereka adalah golongan yang ibtida' (berbuat bid'ah). Mereka mengaku ikut rasul dengan majelis-majelis shalawatan, shalawatan zholimin bizholimin, shalawat ala sabyan, shalawat ala tayo dll. Na'udzubillah. Hidup yang penting rukun, tapi sesat tidak mengapa.

Sangat tipis sekali perbedaan antara taqlid dan ittiba’ adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulla: “Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam." (Taariikh Ahlil Hadiits Ta’yiinul Firqah an-Naajiyah wa Annahaa Thaa-ifah Ahlil Hadiits, hal. 116).

Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitabnya, Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi menerangkan perbedaan antara ittiba’ (mengikuti) dan taqlid yaitu terletak pada adanya dalil-dalil qath’i yang jelas. Bahwa ittiba’ yaitu penerimaan riwayat berdasarkan diterimanya hujjah sedangkan taqlid adalah penerimaan yang berdasarkan pemikiran logika semata.

Berkata Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki (namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdillah, wafat th. 390 H): “Makna taqlid secara syar’i adalah merujuk kepada perkataan yang tidak ada hujjah (dalil) atas orang yang mengatakannya. Dan makna ittiba’ yaitu mengikuti apa-apa yang berdasarkan atas hujjah (dalil) yang tetap. Ittiba’ diperkenankan dalam agama, namun taqlid dilarang.” (Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 993).

Secara ringkas definisi taqlid adalah menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi dalil.

Al Qur'an dan Sunnah selama-lamanya tidak akan pernah bertentangan dengan akal manusia yang smart (cerdas/waras). Jika terjadi kontradiksi (pertentangan) maka yang wajib didahulukan adalah Al Qur'an dan Sunnah. Karena Al Qur'an dan Sunnah adalah ma'shum (terjaga), sdeangkan akal tidak ma'shum, Al Qur'an dan Sunnah tetap, akal berubah-ubah, Al Qur'an dan Sunnah mutlak, sedangkan akal manusia terbatas.

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi ketika menjelaskan perkataan Ath Thahawi, “Tidak akan kokoh telapak kaki islam kecuali diatas permukaan  taslim  (menerima) dan istislam (pasrah)”. Beliau berkata yaitu seseorang yang tidak menerima dan tunduk kepada nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, tidak menolaknya dan tidak memper tentangkannya dengan pendapat, akal dan logikanya. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri rahimahullah, bahwa beliau berkata, dari Allah datangnya risalah, kewajiban Rasul menyampaikan dan kewajiban kita adalah menerima”. (Syarh Ath-Thahawiyah, 1/231, Shahih Bukhari dengan Fathul Bari ,13/512).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah senantiasa mendahulukan naql (wahyu) atas ‘aql (akal). Naql adalah dalil-dalil syar’i yang tertuang dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Sedangkan yang dimaksud dengan akal menurut Mu’tazilah adalah, dalil-dalil ‘aqli yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan (mengalahkan) dalil-dalil syar’i.

Mendahulukan dalil naqli atas dalil akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan ‘aqidah mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan akal semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan menolak dalil naqli (dalil syar’i) yang bertentangan dengan akal mereka atau rasio mereka.

Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal, di antaranya sebagai berikut:

1. Syari’at didahulukan atas akal, karena syari’at itu ma’shum sedang akal tidak ma’shum.

2. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global, tidak bersifat detail.

3. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syari’at.

4. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan syari’at.

5. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib, haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syari’at.

6. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu, walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk.

7. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari’at.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Kami tidak akan mengadzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul.” [Al-Israa’: 15]

8. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh syari’at.

9. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah Azza wa Jalla yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya.

Dari sini dapat dikatakan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah adalah yang benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Jadi, akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduanya. Jika ia bertentangan dengan keduanya, maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Keruntuhan pondasi berarti juga keruntuhan bangunan yang ada di atasnya. Sehingga akal tidak lagi menjadi hujjah (argumen, alasan) namun berubah menjadi dalil yang bathil. (al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidah al-Islaamiyyah ‘alaa Madzhab Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah, hal. 45-46).


Sumber : Buku Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah karya Al Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas hafizhahullah.

Ditulis dengan sedikit penambahn faedah oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah.

Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Ahad pagi, 3 Dzulhijjah 1440 H/ 4 Agustus 2019.
---------------
Artikel Grup Silsilah Manhaj Salaf, gabung hubungi, Ikhwan: 085326461707, Akhwat: 087893446663