Bahagia Tanpa Batas di Bulan Dzulhijjah


Bersemilah Dzulhijjah, bulan yg ditunggu tunggu. Kita memasuki sebuah waktu setiap amalan akan dilipatgandakan pahalanya tak lain dan tak bukan adalah 10 hari di awal Dzulhijjah. Berbanggalah engkau wahai jiwa tatkala memasukinya, karena sang kekasih telah mengabarkan bahwa di hari-hari tersebut semua amal seseorang akan dilipatgandakan pahalanya. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ

”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadlan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR al-Bukhari no. 926, Abu Dawud no. 2438, at-Tirmidzi no. 757 dan Ibnu Majah no. 1727)

Teristimewakannya 10 hari Dzulhijjah karena terkumpulkannya induk-induk ibadah padanya, seperti sholat, puasa, sedekah, dan haji, dan tidak terkumpulkan hal ini pada waktu yang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan bulan Dzulhijjah dengan Ramadhan. Sebagai motivasi beliau menyebutkan bahwa pahala amal di dua bulan ini tidak berkurang.

Allah melebihkan keutamaan zaman/waktu tertentu di atas zaman/waktu lainnya, dan Dia mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya (Latha-iful Ma’aarif, hal. 19-20).

Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab serta menjadi pendapat mayoritas ulama. (Tafsir Ibnu Katsir 4/651 dan Latha-iful Ma’aarif, hal. 20)

Diantara kebahagiaan tanpa batas pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah puasa sembilan hari pertama dan khususnya hari kesembilan yang termasuk amalan-amalan terbaik. Cukuplah dalam hal ini sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa hari ‘Arafah yang mengharapkan pahala dari Allah dapat menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR. Muslim, lihat Shahiih Muslim II/818-819)

Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut. Sungguh lezatnya kebahagiaan tanpa batas yg satu ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. (Hadits Riwayat Ahmad)

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. (al-Baqarah/2 : 185)

Dan sedekah, tilawah yg mempesona hati, ibadah shalat adalah amal sholeh, dengannya terangkatlah kesulitan dan hilangnya kesedihan, dan yang terbaik adalah tatkala waktu dibutuhkan, terutama kebahagiaan dgn amalan tersebut pada hari ini.

Dan taubat memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia dalam agama, ia merupakan sebab kemenangan dan kebahagiaan dgn diampunkannya dosa-dosa serta maksiat. Allah berfirman,

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. (Qs Al-Maidah : 74)

Puncak kebahagiaan tanpa batas pun ada pada 10 hari Dzulhijjah ketika kebahagiaan berhaji tercapai. Ia merupakan salah satu rukun Islam dan pondasinya yang kuat. Allah berfirman :

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Ali 'Imron : 97)

Kebahagiaan tanpa batas itupun tercapai saat predikat haji mabrur ia peroleh karena tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga. Dengan haji gugurlah dosa dan kesalahan, Nabi 'alaihis sholat was salam bersabda:

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Siapa yang berhaji dan tidak melakukan rofats (jimak dan pendahuluannya), dan tidak berbuat kefasikan (kemasiatan) maka ia akan bersih dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya" (Al-Bukhari dan Muslim)

Terakhir adalah puncak kebahagiaan di hari ini adalah ketika Allah Ta'ala memotivasi kita semua untuk ikhlas dalam penyembelihan kurban hanya semata-mata tertuju kepadaNya, bukan untuk membanggakan diri atau pamer atau mencari reputasi, dan tidak pula hanya sekadar mengikuti tradisi. Allah berfirman :

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS Al-Hajj : 37)

Inilah kebahagiaan tanpa batas, yg jika seseorang meraihnya itulah kiranya puncak manisnya iman. Manisnya terasa hingga ke kalbu yg setiap org ingin merasakannya. Nasehatku untukmu.

Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' As-Sulaimi

Bandungan, Kab. Semarang, 8 Dzulhijjah 1438 H, bersemilah Dzulhijjah. 08.30 WIB.
----------