Aku Masih Tinggal di Perumahan Mertua Sakinah


Sungguh indah ikatan bakti yang terjalin antara seorang anak dengan orangtuanya. Ikatan tersebut terjalin dalam sebuah kata indah bernama birrul walidain. Berbakti kepada kedua orang tua wajib atas semua anak, baik anak laki-laki atau perempuan, tidak ada bedanya. Ini berdasarkan keumuman dalil yang memerintahkan berbakti dan berbuat kepada kedua orang tua. Allah ta'ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا (٢٣)وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (٢٤)الإسراء

Dan  Rabb mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Rabb ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al Isra': 23-24)

Kadangkala ada bentuk-bentuk bakti yang mudah dilakukan anak laki-laki yang tidak bisa dilakukan oleh anak perempuan, seperti rutin mengunjungi kedua orang tuanya, karena perempuan kadang-kadang dilarang oleh suaminya mengunjungi orang tuanya atau dilarang untuk sering-sering. Sebab seorang wanita diperintahkan untuk taat pada suami terlebih dahulu dari yang selainnya. Begitulah ketaatan bagi seorang wanita tatkala ia telah bergelar sebagai seorang istri. Namun ia pun tetap boleh menjenguk orangtuanya atas izin suaminya.

Seorang anak laki-laki atau suami tidak ada benturan seperti yang dihadapi seorang wanita yang telah bersuami, oleh karena itu kewajiban berbakti seorang anak laki-laki kepada orang tuanya lebih besar dibanding seorang wanita yang telah bersuami meski status keduanya adalah sama, yaitu anak.

Setelah seseorang menikah mereka akan dituntut untuk membuka lembaran baru dalam hidup, mereka harus menentukan lamgkah kehidupan mereka sendiri sebagai sebuah biduk yang berkembang. Ada yang mampu mandiri, ada pula yang masih menumpang pada biduk yang sudah besar, yaitu mertua. Tatkala mereka masih menumpang pada mertua hari-hari pertama terasa indah, namun seiring berjalannya waktu gesekan dan konflik akan terjadi. Itulah ujian bagi setiap biduk yang sedang berkembang, sang nahkoda harus cakap dalam mengendalikan kemudi biduk tersebut, para krunya pun harus sabar, dan memperbaiki komunikasi satu sama lain.

Kemudian bila biduk tersebut tergoncang oleh badai maka kesabaran adalah kunci utama, begitulah terjadi konflik antara anda dengan mertua/ortu. Sebab hal demikian wajar bila terjadi konflik, namun tidak ada larangan utk tinggal bersama mereka. Yang patut digarisbawahi adalah tidak ada aturan berbakti secara mutlak kepada mertua, yang diperintahkan hanya berbakti kepada kedua orangtua kandung, sebagaimana penjelasan diatas, kepada mertua hanya berbuat ihsan (kebaikan/menghormati) mereka sja. Ada beberapa nasehat bagi kita yg masih tinggal bersama ortu atau mertua diantaranya:

1.Pertama : Pergauli orangtua/Mertua dengan baik.

Berusahalah untuk bermuamalah dengan baik tanpa kecuali, terlebih orang tua kandung dan orang tua istri/suami (mertua). Hal ini tertuang dalam wasiat Nabi Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam kepada Muadz bin Jabal rodhiallohu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ – رواه الترمذي

“Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”

2.Kedua : Waspadalah anda dari godaan syetan.

Godaan syetan dsini dalam kehidupan rumah tangga yang bercampur dengan keluarga besar adalah ipar dan segala kerabat dekat istri. Sebagaimana hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim bahwa Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.”  [Muttafaqun ‘alaih]

Apa makna dalam hadits bahwa hamwu adalah maut? Maknanya bukan hanya ipar saja namun semua kerabat dekat isteri yang bukan mahram.

3.Ketiga : Pahamilah potensi konflik dan berusahalah tuk mengendalikan ego.

Tinggal satu rumah dengan mertua juga akan menimbulkan persaingan di antara menantu dan orang tua. Di satu pihak, pasangan pasti ingin agar suami atau istrinya lebih mengutamakan dia, namun mertua yang sebagai orang tua merasa memiliki hak yang lebih besar untuk diutamakan oleh anaknya sendiri melebihi siapa pun termasuk oleh sang menantu. Nah hal seperti ini pun tidak jarang jadi sumber konflik di antara suami istri.

Potensi konflik mertua menantu juga bisa semakin tajam bila sudah memiliki anak, yang mana antara menantu dan mertua memiliki pandangan yang berbeda dalam cara pengasuhan.

Contoh: Bila Anda ingin bila putra anda saat salah harus diberikan teguran, namun sebaliknya mertua merasa cucunya jangan dikerasin. Antum memberi ketegasan, sementara mertua ingin memanjakan, dan lain-lain. Hal-hal yang kecil nantinya bisa menjadi masalah besar dalam kehidupan rumah tangga Antum karena baik pihak mertua atau menantu merasa pendapatnya yang paling benar. Istilahnya, benarlah sebuah ungkapan kalau sebuah istana harus memiliki satu ratu dan satu raja. Keberadaan dua ratu atau dua raja dalam satu rumah akan berdampak tidak baik bagi keduanya.

Terkadang untuk menyikapi perbedaan pendapat dengan orangtua atau mertua, seringkali kita bahasakan dengan intervensi. Poinnya adalah, jangan sampai kita suudzon atau terlalu dominan ego, sehingga seakan-akan semua nasihat atau campur tangan dari mertua adalah salah. Kita pun harus banyak bersabar dan tawakal tidak terbawa emosi.

Selagi bentuk campur tangan pihak mertua adalah berbentuk nasihat dan masukan positif untuk kebaikan bersama, mengapa harus ditolak? Bukankah berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran adalah perkara yang diperintahkan oleh Allah? Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

4.Keempat : Jangan lupa rencanakan untuk tinggal sendiri sesuai kemampuan, walau harus kontrak rumah, bila belum mampu beli rumah. Sebab ini lebih baik, lebih aman tidak ada yg mengatur rumah tangga anda.

Jika memungkinkan dimusyawarahkan bersama tentang keinginan untuk miliki rumah sendiri, cobalah untuk mengajak istri bicara tentang hal ini. Tentunya, tetap dalam kondisi tidak memaksa dan menekan kondisi masing-masing jika memang penghasilan suami pas-pasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya.

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS Ath-Thalaq 7].

Terakhir, perbanyaklah doa kepada Allah Azza wa Jalla agar diberi kemudahan dalam segala urusan kita serta dijauhkan dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Semoga Allah mudahkan kita untuk berbakti kepada kedua ortu kita dan menjadi kepala rumahtangga yang cakap. Aamiin. Allahua'lam.

Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

(Pembina Channel Dakwah Grup Silsilah Manhaj Salaf)
----------------
Artikel Grup Silsilah Manhaj Salaf, gabung hubungi, Ikhwan: 085326461707, Akhwat: 087893446663