Ahlussunnah wal Jama'ah Mendoakan Kebaikan Bagi Penguasa


Di antara prinsip Ahlussunnah wal Jamaah adalah mendoakan kebaikan bagi para penguasa. Prinsip inilah yang selalu melekat pada aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, prinsip inipun sebagaimana yang dicontohkan oleh para Salaf seperti Fudhoil bin Iyadh, Imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya mengatakan:

لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان

“Andaikata kami memiliki doa yang pasti dikabulkan, niscaya kami akan panjatkan doa kebaikan bagi pemimpin yang berkuasa.”
(As-Siyasah Asy-Syar’iyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 129)

Cerminan pemimpin yang baik tergambarkan sebagai sebuah ketaatan yang sempurna bila ia taat kepada Allah dan RasulNya, maka rakyat pun akan taat pada pemimimpin tersebut. Allah ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa [4]: 59).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

“Dan barangsiapa yang menaati pemimpin, maka sungguh dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin, maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1835)

Ketaatan disini tidak secara mutlak, bila mereka menyelisihi Allah dan RasulNya, maka kita tidak wajib mentaatinya, namun kita dilarang keluar dari pemimpin tersebut. Kewajiban kita adalah mendoakan mereka dan sabar atas keputusan-keputusan mereka walau hal tersebut dzalim. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ , وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ . .

"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka (dengan kebaikan) dan mereka mendoakan kalian (dengan kebaikan). Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian." (HR. Muslim)

Jika ada orang yang membuat statement: "Jangan taat pada pemerintahan yang sekarang, sebab ia hanya pemerintahan ala boneka, presiden yang sekarang lebay, presiden yang sekarang kurang tegas." Lalu apakah orang yang seperti ini termasuk pengikut Ahlussunnah atau ahlul ahwa' / ahlul bid'ah?

Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Barbahari rahimahullah:

وإذا رأيت الرجل يدعوا على السلطان، فاعلم أنه صاحب هوى وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح، فاعلم أنه صاحب سنة – إن شاء الله –. .

"Apabila anda melihat seseorang mendoakan pemimpinnya dengan kejelekan maka ketahuilah bahwa dia adalah pengekor hawa nafsu. Dan apabila anda melihat seseorang mendoakan pemimpinnya dengan kebaikan maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut sunnah -insya Allah-." [Syarhu As-Sunnah hal 107-108]

Seorang ahlus sunnah wal jama'ah sejati adalah ia yang mendoakan pemimpinnya dengan kebaikan, Imam Ath Thahawi rahimahullahu berkata dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah: "Dan kami mendoakan pemimpin muslim dengan kebaikan dan keselamatan."

Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan doa Nabi shollallahu 'alaihi wasallam sebagai berikut ?

اللهم من ولى من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه ومن ولى من أمر أمتي شيئا فرفق بهم فارفق به

“Ya Allah, siapa saja yang memiliki wewenang mengatur suatu urusan umatku lantas ia menyulitkan mereka maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memiliki wewenang mengatur suatu urusan umatku lantas ia memperlakukannya dengan baik maka perbaikilah dia.” [HR. Muslim 1828]

Bukankah di sini beliau memberikan contoh bolehnya mendoakan kejelekan bagi penguasa?

Jawabannya sekaligus bantahannya adalah Nabi shollallahu 'alaihi wasallam menyebutkan pihak yang memiliki wewenang secara umum, beliau tidak menyebut secara ta'yin (individu) sehingga riwayat ini tidak dapat menjadi dalil bahwa sumpah serapah mendoakan kejelekan atas penguasa dianggap sebagai sunnah Nabi shollallahu 'alaihi wasallam.

Al-Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa pihak yang memiliki wewenang antara lain seperti pemerintahan, khilafah, penguasa, hakim dan kepemimpinan yang lainnya secara umum. (Faidhul Qodhir 2/106)

Syaikh Al-'Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, bahkan termasuk kepemimpinan dalam urusan sekolah maupun masjid. (Syarh Riyadhussholihin 3/633).

Imam Abu Ja’far Ath Thahawi  rahimahullah  menjelaskan lebih lanjut dalam kitabnya aqidah ath thahawiyah, diantara prinsip aqidah ahlus sunnah berikutnya adalah,

وإن جاروا

“Meskipun mereka (pemimpin) itu  (berbuat) zalim.”

Maksud dari perkataan diatas yaitu meskipun pemimpin itu zalim dan melampaui batas, misalnya dengan mengambil harta atau membunuh kaum muslimin, maka ahlus sunnah tidaklah berpendapat bolehnya keluar dari ketaatan kepada mereka. Hal ini berdasarkan perintah tegas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu,

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Engkau mendengar dan Engkau menaati pemimpinmu. Meskipun  hartamu  diambil dan punggungmu dipukul.  Dengarlah dan taatilah (pemimpinmu).”  (HR. Muslim no. 1847).

💐Begitu indah petuah dari Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau  memerintahkan kepada kita agar bersabar, bukan malah memberontak , mengangkat senjata atau melakukan demonstrasi. Karena dengan memberontak dan demonstrasi, akan menimbulkan (lebih) banyak kerusakan.

Di usia kemerdekaannya yang 74 ini semoga bangsa dan negara kita dijaga oleh Allah ta'ala dari fitnah dan malapetaka, serta Allah jadikan negara kita Indonesia yang "baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur". Marilah kita perbanyak doa kebaikan bagi para pemimpin yang berkuasa di negara kita dan di negeri-negeri kaum muslimin, agar senantiasa mendapat taufiq dari Allah serta dijauhkan dari kezaliman. Mari kita jaga diri kita dari mengisi hati dengan kesalahan-kesalahan penguasa karena hal itu akan mengakibatkan kekacauan dan petaka.

Belajarlah untuk dapat mengingkari kemungkaran dengan cara yang ma'ruf (baik), karena agama Islam adalah agama kebaikan, agama yang menjunjung tinggi rahmat dan kasih sayang kepada setiap makhluk. Sebagai orang berakal dan dinaugerahi firhrah yang mulia tentu kita harus mampu memilih mana yang lebih baik di antara dua kebaikan dan mana yang lebih ringan di antara dua kejelekan. Allahua'lam bishawab.
______
Oleh: Ust. Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah.
(Pembina Grup Silsilah Manhaj Salaf)

Bandungan, Kab. Semarang, Jateng, Sabtu, 16 Dzulhijjah 1440 H/17 Agustus 2019 M.
-----------------
Artikel Grup Silsilah Manhaj Salaf, gabung hubungi, Ikhwan: 085326461707, Akhwat: 087893446663