PROBLEMA RUMAHTANGGA DAN SOLUSINYA

Seri Fiqih Rumahtangga Sakinah


Sungguh betapa Maha Besar Allah Al 'Aziiz, Dialah Ar Rahman Ar Rahiim yang telah memberikan banyak nikmat, karunia, dan keamanan bagi setiap makhlukNya. Diantara nikmat tersebut adalah nikmat kebahagiaan rumahtangga yang sakinah, mawaddah dan Rahmah, yang pasti sangat diidam-idamkan sekali oleh setiap pasangan yang baru membina ataupun sudah lama membina bahtera. Itulah hidup dalam naungan bahtera rumah tangga.

Namun terkadang bahtera tersebut harus terkikis oleh dentuman ombak nan silih berganti, tiap ia kembangkan layarnya maka akan ia dapati angin yg kan menghadang silih berganti. Sang nahkoda pun tentu harus selalu sigap dalam mengendalikan halauan bahtera tersebut, bilasaja ia salah kemudi maka bahtera tersebut akan tunggang langgang. Begitulah kiranya perjalanan hidup setiap bahtera yang menuju pulau sakinah mawadah dan rahmah, bila ingin menggapainya tak ayal cobaan datang silih berganti. Maka sang nahkoda maupun penumpangnya dituntut utk cakap dalam memahami hak dan kewajiban masing- masing. Sungguh benar sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته، … والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم”

“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya … Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka“ (HR. al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829)

Saudaraku tahukah engkau tanda kebahagiaan kecil? Ya kebahagiaan kecil adalah apabila seorang hamba tatkala di pagi harinya ia dapati nikmat ketenangan, makanan yg nikmat dan segelas air hangat. Namun tak semua orang mampu merasakan kebahagiaan ini. Dan sudah pasti kebahagiaanku dan kebahagiaanmu berbeda. berikut. Alangkah benar apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Keutuhan rumah tangga adalah nikmat yang selalu didamba oleh setiap keluarga. Syariat Islam memerintahkan suami istri agar saling menyayangi dan bergaul dengan sesamanya secara patut, tak lain demi terjaganya keutuhan rumah tangga tersebut. Suami berkewajiban membina rumah tangganya, bergaul dengan istri secara patut, dan bersabar atas berbagai kekurangan yang ada padanya. Di lain pihak, istri berkewajiban menaati suami, mengurus rumahnya, dan menjaga anak-anaknya. Dan tentunya semua itu tidak mudah, sebagaimana membalikkan telapak tangan.

Rumah tangga akan berbahagia, jika istri itu taat pada suami. Karena istri seperti inilah yang akan menyenangkan hati suami,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

"Pernah ditanyakan kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai, no. 3231; Ahmad, 2: 251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Perlu disadari bahwa Romantika Kehidupan Rumah Tangga
Perjalanan sepasang insan dalam mengarungi tak lepas dari aral rintangan. Itulah fenomena kehidupan rumah tangga di alam dunia. Tanpa pertolongan dari Allah ta'ala, lantas kesabaran dan perjuangan dari suami istri dalam menjalaninya, tak mungkin kehidupan yang berlimpah berkah, harmonis, dan diliputi kebahagiaan terjelma dalam kenyataan. Tak sama dengan kehidupan rumah tangga di alam akhirat, di Jannatin Na’im (surga yang dipenuhi kenikmatan) yang selalu dalam kebahagiaan, pesona, dan bertabur kesenangan. Maka setiap pasangan harus bersabar dalam menjalani rumahtangganya, perlunya belajar seni berumahtangga yang baik, memahami karakter masing-masing juga tak kalah penting.

Tak heran, apabila kita mencermati perjalanan sepasang insan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, banyak terkoleksi darinya kisah dan pelajaran. Ada yang menjalaninya dengan bahagia, walaupun bersela dengan rintangan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing semaksimal kemampuan. Segala romantikanya dilalui dengan penuh kesabaran dan kebersamaan. Ada pula yang dikitari oleh riak-riak pertikaian dan persengketaan, walaupun akhirnya keutuhan rumah tangga tetap dapat dipertahankan. Bahkan, ada pula yang didera berbagai problem dan permasalahan, tiada daya dan upaya untuk bertahan, hingga akhirnya berujung dengan perpisahan. Ini semua termasuk bencana dalam rumah tangga, dan akibat daro perbuatan maksiat manusia itu sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan- kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).

(bagian ke-2)

⚡Satu hal yang tak boleh dilupakan oleh setiap orang yang beriman, bahwa iblis la’natullah ‘alaihi dan segenap anak buahnya tak pernah suka jika ada keluarga muslim yang hidup bahagia, sakinah (tenteram), mawaddah warahmah (penuh kasih sayang). Dengan penuh antusias, Iblis dan anak buahnya berupaya mencerai- beraikan mereka. Bahkan, anak buah Iblis yang paling tinggi kedudukannya di sisinya adalah yang berhasil melakukan perbuatan jahat tersebut. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ-قَالَ-فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ الأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ.

“Sesungguhnya iblis membangun singgasananya di atas air (lautan), kemudian mengutus anak buahnya. Di antara mereka yang paling tinggi kedudukannya di sisi iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Ketika salah seorang dari mereka datang (kepada iblis) seraya melaporkan, ‘Saya telah berhasil melakukan demikian dan demikian.’ Iblis menimpalinya, ‘Kamu belum berbuat apa-apa!’ Kemudian datanglah seorang dari mereka (kepada iblis) seraya melaporkan, ‘Saya tidak membiarkannya sampai berhasil menceraikan antara dia dan istrinya.’ Iblis menyuruhnya mendekat seraya berkata kepadanya, ‘Sebaik-baik (anak buahku) adalah kamu!” Al-A’masy (perawi) berkata, ‘Tampaknya beliau mengatakan, ‘(Iblis) merangkulnya’.” (HR. Muslim no. 2813)

Bila godaan iblis la’natullah ‘alaihi dan anak buahnya telah merambah kehidupan rumah tangga seorang anak Adam dan riak-riak pertikaian pun mulai mengitari bahtera rumah tangganya, tiada jalan keselamatan melainkan dengan berlindung kepada Allah jalla jalaaluhu dari kejahatan mereka, kemudian berpikir jernih dalam mengambil setiap keputusan. Sikap saling memahami, memaklumi, dan memaafkan mutlak dibutuhkan dalam kondisi yang demikian. Karena tak ada gading yang tak retak, masing-masing mempunyai kelemahan dan bisa terjatuh dalam kesalahan. Kerja sama antara keduanya sangat membantu dalam mewujudkan kehidupan yang didambakan.

Bilamana hubungan suami istri tersebut tak mampu lagi mengambil kata sepakat terkait keutuhan rumah tangga mereka, maka dalam kondisi semacam ini, diharapkan ada pihak ketiga yang berperan aktif mengadakan ishlah (perbaikan) untuk keduanya. Allah ta'ala berfirman:

“Dan jika kalian mengkhawatirkan adanya persengketaan antara keduanya (suami istri), kirimlah seorang juru pendamai dari keluarga laki-laki dan seorang juru pendamai dari keluarga perempuan. Jika kedua orang juru pendamai itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(an-Nisa’: 35).

Tatkala sepasang insan tak mungkin lagi hidup bersama, seatap dan serasa, sementara berbagai upaya ishlah telah ditempuh dengan saksama, saat itulah talak dan juga khulu’ menjadi solusi bersama untuk menuju kehidupan berikutnya yang diharapkan lebih membahagiakan. Dari sisi hukum, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t menggolongkan kondisi semacam ini ke dalam kategori wajib. (Lihat Fathul Bari 9/258)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Manakala tujuan dari pernikahan itu tak dapat diwujudkan dalam kenyataan, cinta kasih dari keduanya mulai sirna, atau pada suami yang tak ada lagi cinta, sehingga pertikaian tak kunjung reda dan solusi damai pun sudah tak ada; dalam kondisi seperti ini, suami diperintahkan untuk menceraikan istrinya dengan cara yang baik dan bijaksana. Allah ta'ala berfirman:

“Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al-Baqarah: 229)

“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing- masingnya dari limpahan karunia-Nya, dan adalah Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahabijaksana.”
(an-Nisa’: 130)

Sebaliknya jika suami masih ada cinta sedangkan istri hampa darinya, bisa jadi karena tak suka dengan perangainya (suami), rupa fisiknya, kurang dari sisi agamanya, atau khawatir berdosa karena tak bisa memenuhi haknya; dalam kondisi seperti ini diperbolehkan bagi istri untuk mengajukan gugatan cerai kepada suaminya dengan mengembalikan mahar (maskawin) yang pernah diberikan kepadanya. Allah ta'ala berfirman:

“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229) (al-Mulakhkhash al-Fiqhi 2/218)

Salah satu cara mengatasi problem rumahtangga adalah mengambil pelajaran dari kasus dan peristiwa perceraian orang lain, mempelajari berbagai sebab dan faktor yang mengakibatkan percekcokan sampai terjadi perceraian, sebab orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari peristiwa orang lain, dan orang yang celaka adalah orang mengambil pelajaran dari peristiwa yang menimpa diri sendiri.

Terakhir bersikaplah lapang dada untuk menerima kekurangan dan kelemahan masing-masing serta berusaha menumbuhkan rasa kasih sayang dan sikap pemaaf. Dan semua pihak yang dimintai maaf hendaklah segera memberikan maaf, agar hati kembali bercahaya dan bersih dari perasaan jengkel, kesal dan dengki.

Semoga Allah jalla jalaaluhu memberkahi kita keluarga yang selalu utuh, sakinah mawaddah dan rahmah. Serta melindungi setiap keluarga muslim dari malapetaka dan perpecahan. Aamiin.
 Selesai

Ditulis oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 22 Dzulqo'dah 1440 H/25 Juli 2019 M.