Menghadapi Keridhoan Manusia


Ridho manusia adalah hampa, ia tak kekal, sedangkan ridho Allah adalah kekal dan berbarokah. Salah satu bentuk kehinaan bila seorang hamba menggantungkan hidupnya dari ridho manusia. Tatkala ia menjadi hamba dunia, seoalh akhirat terlupakan. Tentunya wajib bagi setiap muslim mencari ridho Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan yang ia lakukan, meskipun manusia membencinya. Hal ini dikarenakan hanya Allah satu-satunya Dzat yang mampu memberikan manfaat dan kebaikan, dan mencegah mudharat dan keburukan. Ahli hikmah mengatakan

رضا الناس غاية لا تدرك

"Ridho manusia adalah sebuah cita yang tidak dapat dicapai"

Seringkali ungkapan ini dinukil setengah- setengah. Padahal bila ungkapan ini dinukil seutuhnya maka ungkapan ini merupakan ungkapan yang mengandung makna yang sangat luar biasa.

رضا الناس غاية لا تدرك ورضا الله غاية لا تترك ، فاترك ما لا يدرك ، وأدرك ما لا يترك

"Ridho manusia adalah satu cita yang tidak dapat dicapai, sedangkan ridho Allah adalah satu cita yang tidak sepatutnya ditinggal.

Oleh karena itu, tinggalkanlah apa yang tidak mampu dicapai, dan capailah apa yang tidak sepatutnya ditinggal."

Ketahuilah bahwa orang baik itu bukanlah orang yang tak pernah berbuat keburukan, tetapi yang kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya. Dan orang buruk bukanlah orang yang tak pernah berbuat baik, tetapi yang keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya.

Entah apakah tabiat manusia yang mudah untuk melupakan kebaikan, dan merekam dengan sempurna kesalahan orang lain, hingga kita kehilangan sikap adil..? Tetapi seperti itulah keadaannya, orang lebih suka mengomentari dan mengkritik kesalahan, daripada mengapresiasi kebaikan. Jika engkau melakukan 1 kesalahan dari 10 soal, orang lain akan menunjuk kesalahanmu itu dan memilih demikian daripada melihat kebenaranmu yang bernilai 9, jauh lebih banyak. Begitulah tabiat manusia yang lebih suka dan peka bila melihat satu celah kesalahan kecil, bila telah terlihat, maka sesuatu yg kecil itu akan menjadi besar dan meluas, dan akan menjadi nikmat bila terpandang manusia.

Perhatikanlah, saudara jika engkau ingin berharga bagi orang lain, hapuslah kesedihannya. Dan jika engkau ingin menghargai orang lain, berikanlah dukungan dan apresiasi kepadanya. Tunjukkan bahwa engkau adalah sosok yang berbeda.

Bila aku berilmu aku tidak ingin mengajari orang yang sok tahu, lebih baik kuajari orang bodoh yang haus ilmu, agar ilmuku bermanfaat. Ia akan lebih menghargaiku daripada orang yang sok tahu dan merasa berilmu. Bersabar saat dibully akan berbuah pahala, kebanyakan manusia menjadi penikmat bullian daripada kebaikan, sebab itulah bumbu-bumbu setan.

Ingatlah jalan yang harus kita tempuh dan kita lakukan adalah mengabaikan hal-hal yang membuat kita terjatuh, dan tetap melakukan kebaikan. Satu kebaikan yg akan kita kerjakan akan berbuah seribu kebaikan dan yakinilah bahwa celaan adalah sebuah kepastian yang akan menghampiri diri kita. Ibnu Hazm rahimahullah menuturkan:

مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون

"Barangsiapa yang menyangka dirinya bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.." [Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawatin Nufus, hal. 17]

Berhati-hati dalam bersikap dan menilai seseorang, adalah respons dari apa yang kita pahami saat ini. Jika kita memiliki mata yang senantiasa melihat dan mencari-cari keburukan orang lain, maka katakanlah, "Wahai mata, sesungguhnya orang-orang pun memiliki mata yang bisa melihat semua aib-aib dirimu.."

Dan apabila kita dihadapkan kepada pilihan antara ridho Allah atau ridho manusia, maka pilihlah ridho Allah. Karena jika kita memilih ridho manusia sedangkan Allah murka, maka kita akan kehilangan Allah sedangkan manusia tak selamanya berada dalam genggaman kita. Tetapi jika kita memilih ridho Allah, yakinlah bahwa Allah sangat mampu untuk membalikkan hati mereka agar meridhoi jalanmu suatu saat nanti. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ

"Allah dan Rasul-Nya yang lebih berhak untuk mereka cari keridhoan-Nya.." [QS. At-Taubah: 62]

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Maka janganlah kalian takut kepada mereka tapi takutlah kalian kepada-Ku.." [QS. Ali-Imran: 175]

🏷Dalam hadits disebutkan:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس

"Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya.."[HR Ibnu Hiban no. 276]

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (7: 82), dijelaska bahwa“Allah akan cukupkan dia dari beban manusia” maksudnya Allah akan menjadikan dia sebagai golongan Allah dan Allah tidak mungkin menyengsarakan siapa pun yang bersandar pada-Nya. Dan golongan Allah (hizb Allah), itulah yang bahagia. Sedangkan maksud “Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia” adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya hingga menyakiti dan berbuat zholim padanya.

Segala sesuatu bila telah terlihat sempurna pasti akan ada saja kekurangan, begitulah hidup. Hidup adalah seni, ia merancang, membangun, dan mempertahankan, juga menguatkan. Tiada gading yg tak retak begitulah sang penyair berucap. Gading yg kokoh pun kan retak, ketampanan, kecantikan, tubuh yg mulus, harta dan kedudukan yg kita banggakan kan sirna. Cukuplah ridho Allah jalla jalaaluhu sebagai tumpuan dan sandaran. Ibnu Abdis Salam rahimahullah bersyair:

وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ، فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ،  وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُ

"Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapa pun.. Duhai seandainya engkau ridho meskipun kehidupan ini pahit.. Duhai seandainya engkau ridho meskipun seluruh manusia marah. " [Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra, 8/228]

Jangan sampai kita meremehkan kebaikan-kebaikan sekecil apapun, ingat perbuatan-perbuatan baik apapun yang kita lakukan, baik yang hukumnya wajib, sunnah maupun mubah, hendaknya diniatkan semata-mata karena mengharap keridhoan dan balasan dari Allah ta’ala. Perbuatan tersebut bukan dikerjakan untuk selain Allah ta'ala.

Alangkah hinanya bila kita melakukan suatu amalan dengan niat dan tujuan supaya dikenang dan dipuji oleh manusia karena akan menyebabkan kebinasaan di dunia dan akhirat. Alangkah hinanya bila amalan atau perbuatan tersebut dinitakan supaaya mendapat kedudukan di hati manusia.

Jangan samapai kita termasuk orang yang hina dan binasa, sebagaimana yg dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan imam Muslim di dalam kitab Shahihnya (no.1905) tentang golongan manusia yang pertama kali diadili oleh Allah dan dicampakkan ke dalam api neraka pada hari kiamat, dan mereka adalah orang yang berjihad di jalan Allah, menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, dan orang yang bersedekah, namun mereka mengerjakan ibadah-ibadah yang agung tersebut tanpa ikhlas karena Allah, dan mengerjakannya untuk tujuan yang lain.

Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizhahullah

Tembalang, Kota Semarang, Senin sore, 19 Dzulqo'dah 1440 H/22 Juli 2019 M.
----------
Artikel Grup WA & Fans page Silsilah Manhaj Salaf
Gabung hubungi : 085326461707