DIANTARA LARANGAN BAGI SESEORANG YANG HENDAK BERKURBAN

Seri Fiqih Qurban


Diantara hikmah berqurban adalah larangan agar tidak memotong rambut dan kuku bagi shohibul qurban. Larantan tersebut terhitung sejak memasuki bulan Dzulhijah, para pengkurban tidak boleh memotong rambut dan kuku, sampai prosesi pemotongan hewan kurbannya dilaksanakan.

Untuk tahun ini (1440 H/ 2019 M) 1 Dzulhijjah 1440 H diperkirakan akan jatuh pada tanggal 02 Agustus 2019 (hari Jum'at), sedangkan 10 Dzulhijjah atau Idul Adha 1440H diperkirakan akan jatuh pada Ahad, 11 Agustus 2019. Namun kita hendaknya menunggu keputuasan pemerintah. Maka sebaiknya yang berniat kurban untuk bersih-bersih diri sebelum tanggal tersebut.

Maka diperkirakan hari Kamis tanggal 01 Agustus 2019 atau 29 Dzul qa’dah 1440 adalah hari terakhir untuk memotong rambut dan kuku bagi yang ingin menyembelih hewan qurban.

Karena ada larangan potong kuku dan rambut badan serta kepala bagi yang berniat qurban. Larangan ini berlaku mulai 1 Dzulhijjah. Larangan memotong kuku dan rambut disebutkan dalam bebrapa hadits berikut,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. Muslim).

 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً ا

“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian telah berniat untuk berqurban, maka janganlah ia memotong rambutnya dan kulitnya sedikitpun.”
[HR. Muslim dari Ummu salamah radhiyallahu’anha]

Dalam riwayat yang lain,

فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Janganlah ia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun sampai ia menyembelih.” [HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha]

Dalam pandangan fiqih sendiri terdapat perbedaan pendapat yang cukup kuat di kalangan para ulama terkait hukum larangan ini, diantaranya,

Mazhab Syafi’i berpandangan larangan pada hadis di atas bermakna makruh.

Sementara dalam Imam Ahmad dan Ishaq, larangan pada hadis di atas bermakna haram. Pendapat inilah yang dinilai kuat oleh komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia (Lihat : Fatawa Lajnah Da-imah nomor 1407)

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengaitkan larangan memotong kuku dan rambut dengan si pengkurban saja. Yakni yang keluar biaya untuk beli kurban atau yang mengqurbankan hewan qurban piaraannya.

Beberapa Pelajaran Penting:

1. Larangan memotong rambut dan kuku ini hanya berlaku bagi orang yang telah berniat kurban, adapun untukn keluarganya yang akan ia niatkan, tidaklah berlaku bagi mereka, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

2. Rambut yang dilarang dipotong mencakup rambut mubah dan yang mustagab. Rambut mubah maksudnya adalah seluruh rambut yang ada di tubuh kita, yang tidak ada anjuran mencukurnya. Adapun rambut mustahab maksudnya, rambut yang dianjurkan untuk dicukur, seperti kumis, bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak. (Lihat : Bidayatul Faqiih, Karya Dr. Salim Al-Ajmi, hal. 472)

3. Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian kuku dan rambut manapun. Artinya mencakup larangan mencukur gundul atau mencukur sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak. (Shahih Fiqih Sunnah II:376).

Dalam Fatawa Lajnah Da-imah diterangkan,

فتبين بهذا : أن هذا الحديث خاص بمن أراد أن يضحي فقط ، أما المضحى عنه فسواء كان كبيراً أو صغيراً فلا مانع من أن يأخذ من شعره أو بشرته أو أظفاره بناء على الأصل وهو الجواز ، ولا نعلم دليلاً يدل على خلاف الأصل

Dari hadis di atas tampak jelas, bahwa hadis ini khusus berkenaan dengan orang yang hendak berkurban saja. Adapun orang-orang yang dicakupkan dalam niat kurban, baik dewasa maupun kanak-kanak, tidak ada larangan untuk memotong rambut atau kukunya. Hal ini berdasarkan hukum asal memotong rambut dan kuku adalah mubah. Dan kami tidak mendapati dalil yang menyelisihi hukum asal ini. (Lihat : Fatawa Lajnah Da-imah nomor 1407)

Adakah Kafaroh (denda) bagi orang yang melanggar larangan diatas?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah  menjelaskan bahwa tidak ada  kafarah  atau hukuman dalam hal ini, cukup bertaubat dan beristigfar saja, beliau berkata:

“Barangsiapa yang memotong rambut atau kukunya karena lupa atau tidak tahu sedangkan ia ingin melaksanakan qurban, maka tidak mengapa baginya (tidak ada kafarah). Karena Allah subhanahu memaafkan hamba-Nya dari kesalahan dan lupa dalam kondisi ini dan semisalnya. Adapun jika melakukannya dengan sengaja maka wajib baginya bertaubat kepada Allah dan tidak ada kewajiban apapun baginya (yaitu tidak ada fidyah atau kafarah).” (Fatawa Al-Islamiyah 2/316)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Jika telah ditetapkan dalam beberapa riwayat, maka ia tidak boleh mencukur rambut, dan memotong kuku. Dan jika ia melakukannya maka harus bertaubat kepada Allah –Ta’ala-, namun tidak ada fidyah baik karena sengaja atau lupa, ini merupakan hasil ijma’ para ulama “. (al Mughni: 9/346)

Dan hal yang perlu diketahui bahwa orang yang mewakili penyembelihan hewan kurban orang lain, tidak terkena larangan di atas. Bagi orang yang telah memotong kukunya atau memangkas rambutnya pada awal Dzulhijjah karena tidak ada niatan untuk berkurban, maka tidak mengapa. Kemudian keinginan itu muncul di pertengahan sepuluh hari pertama (misalnya pada tanggal 4 Dzulhijjah), maka sejak hari itulah dia harus manahan diri dari memotong rambut atau kukunya.

Orang yang sangat terdesak untuk memotong sebagian kuku atau rambut karena akan membahayakan, seperti pecahnya kuku atau adanya luka di kepala yang menuntut untuk dipangkas, maka tidak apa-apa. Sebab orang yang berkurban tidaklah lebih daripada orang yang berihram yang pada saat sakit atau terluka kepalanya dibolehkan untuk memangkasnya. Hanya saja bagi yang berihram terkena fidyah, sementara orang yang berkurban tidak.

Dalam perkara mandi besar atau keramas biasanya ada beberapa lembar rambut yang akan rontok dan terbawa bersama air, lalu bagaimanakah dengan hal ini?

Jawabannya, laki-laki dan perempuan yang ingin berkurban tidak dilarang untuk keramas pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, walaupun akan ada satu, dua, atau lebih helai rambutnya yang rontok. Karena larangan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam tersebut bagi yang sengaja memotong atau memangkas dan juga karena orang berihram tetap dibolehkan untuk membasahi rambutnya.

Hikmah dilarangnya memotong rambut dan kuku bagi shohibul qurban:🏷

1. Yang tepat bahwa, tidak ada dalil tegas yang menunjukkan hikmah larangan di atas. Maka sebagai seorang muslim haruslah sami’na wa atho’na, sekedar mendengar dan menjalankan. Kita taat dan patuh perintah tersebut.

2. Kalangan ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa adanya larangan tidak dipotongnya rambut dan kuku maka akan semakin menyempurnakan anggota badan untuk bebas dari azab api neraka.

3. Sebagian ulama mengatakan bahwa hikmah yang dimaksud adalah karena menyerupai orang yang berihram (saat haji) yaitu kala itu dilarang pula untuk memotong rambut dan kuku. Namun ulama Syafi’iyah membantah karena orang yang berqurban tidak sampai meninggalkan bercinta dengan istri. Orang yang berqurban juga masih dibolehkan mengenakan parfum dan pakaian yang membentuk lekuk tubuh (seperti kemeja dan celana). Juga perbuatan lainnya yang di mana orang yang berqurban tidak sepenuhnya melakukan seperti orang yang berihram. (Syarh Shahih Muslim, 13: 127).

3. Ada juga ulama yang mengatakan hikmahnya adalah membiarkan rambut dan kuku tetap ada dan dipotong bersama sembelihan kurban, sehingga menjadi bagian kurban disisi Allah.

4. Dan hikmah yang terbesar tentang larangan ini adalah dalam rangka taat pada ketentuan (syari'at) Allah ta’ala dan untuk lebih meneladani (ittiba') kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Allahu a’lam
--------------
Oleh: Saryanto Abu Ruwaifi' hafizahullah

Bandungan, Kab. Semarang, Selasa, 27 Dzul qo'dah 1440 H/ 30 Juli 2019 M.
--------------------------
Artikel Grup Kuliah Online Silsilah Manhaj Salaf, gabung grup hub. 085326461707